Pengengan kurikulum pendidikan
ADA APA DENGAN METODE KURIKULUM ?
ADA APA DENGAN METODE KURIKULUM ?
Penulis : Ruslan
Asmita
Nur Aeni
Editor : Drs. Muhammad Yusuf, M.pd.
Desain Kulit : Nur Aeni
Desain Isi : Ruslan
Ukuran Buku : 23 × 15 cm
Diterbitkan Oleh:
(belum di terbitkan)
Jl. xxx
Telp. 08xxx
Mahasiswa Pendidikan Fisika UINAM
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini
Kedalam bentuk apapun secara elektronis maupun mekanis
Tanpa izin tertulis dari penerbit
KATA SAMBUTAN
Kami Harap Drs. Muhammad Yusuf, M.pd. Bersedia Mengisi Kata Sambutan
KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Swt.yang telah memberikan kita kesehatan, kesempatan, dan kekuatan kepada kami sehingga dapat menyelesaikan buku ini dengan judul “ADA APA DENGAN METODE KURIKULUM ?“. Salawat dan Salam tak lupa pula kita haturkan kepada Nabi sekaligus Rasul yang diutus oleh Allah Swt. membawa risalah kepada seluruh umat manusia.
Buku ini dibuat selain sebagai pemenuhan tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, buku ini juga dimaksud agar bermanfaat bagi yang membaca maupun penulis, sehingga dapat memahami materi tentang kurikulum yang ada di Indonesia.
Selanjutnya, dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan buku ini, terutama kepada dosen mata kuliah Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran yang dalam hal ini Drs. Muhammad Yusuf, M.pd. yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Akhirnya, penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyajian buku ini tentu masih banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu, kritik dan saran akan dapat menyempurnakan buku ini untuk masa mendatang.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I 1
SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM 1
A. Kurikulum Rencana Pembelajaran (1947-1968) 2
B. Rencana Pelajaran Terurai 1952 5
C. Kurikulum Rencana Pendidikan 1964 7
D. Kurikulum 1968 9
E. Kurikulum Berorientasi Pencapaian Tujuan (1975-1984) 11
F. Kurikulum 1984 19
G. Kurikulum 1994 23
H. Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 28
I. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP) 33
J. Kurikulum 2013 37
BAB II 22
KURIKULUM 2013 22
A. Pengertian Kurikulum 2013 23
B. Landasan Pengembangan Kurikulum 2013 26
C. Tujuan Pengembangan Kurikulum 2013 31
D. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013 32
E. Implementasi Kurikulum 2013 34
F. Pengembangan Kurikulum 2013 69
BAB III 80
PROSEDUR PENGEMBANGAN KURIKULUM 80
A. Pengertian Prosedur Pengembagan Kurikulum 81
B. Prinsip Pengembangan Kurikulum 85
C. Tahapan Pengembangan Kurikulum Menurut Para Ahli 92
D. Langkah-Langkah Prosedur Pengembangan Kurikulum 100
BAB IV 104
TESTIMONI PENULIS 104
DAFTAR PUSTAKA 135
BAB I
SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam melaksanakan pendidiakan. Kurikulum mencerminkan falsafah hidup bangsa, ke arah mana dan bagaimana bentuk kehidupan itu kelak di tentukan oleh kurikulum yang di gunakan oleh bangsa itu tersebut sekarang. Nilai sosial, kebutuhan, dan tuntutan masyarakat cenderung dan selalu mengalami perubahan antara lain akibat dari kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi.Kurikulum harus dapat mengatasi perubahan tersebut, sebab pendidikan adalah cara-cara yang di anggap paling strategis untuk mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.
Sejak perjalanan sejarah sejak tahun tahun 1945 kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1075, 1984, 1994, 2004, 2006 dan 2013. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi dan Iptek, berbangsa dan negara, sebab kurikulum seperangkat rencana pendidikan yang perlu di kembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.
Kurikulum Rencana Pembelajaran (1947-1968)
Kurikulum yang digunakan di Indonesia dipengaruhi oleh tatanan sosial politik Indonesia.Negara-negara penjajah yang mendiami wilayah Indonesia ikut juga mempengaruhi sistem pendidikan nasional di Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda setidaknya ada tiga sistem pendidikan dan pengajaran yang berkembang saat itu:
Sistem pendidikan Islam yang di selenggarakan pesantren.
Sistem pendidikan Belanda yang diatur dengan prosedur yang ketat dari mulai aturan siswa, mengajar, sistem pengajaran dan kurikulum semua di atur oleh pemerintahan Belanda.
Sistem pendidikan pribumi yang diselenggarakan oleh pemerintah Belanda, peserta didiknya hanya orang-orang ningrat saja.
Prosedur pendidikan Belanda diatur dengan prosedur yang ketat di mulai aturan siswa, pengajaran, sistem pengajaran, kurikulum sistem prosedural seperti ini sangat berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang telah di kenal sebelumya. Sistem pendidikan Belanda pun bersifat diskriminatif. Sekolah-sekolah di bentuk dengan membedakan pendidikan antara anak belanda anak Timur asing dan anak pribumi. Dalam golongan pribumi ini masih dipecah lagi menjadi masyarakat kelas bawah dan priyayi sedangakan susuna persekolahan zaman kolonial adalah sebagai berikut:
Persekolahan anak- anak pribumi untuk golongan non priyayi menggunakan pengantar bahasa daerah, namanya sekolah desa 3 tahun, mereka berhasi menamatkannya boleh melanjutkan ke sekolah sambungan (vervolgschool) selama 2 tahun. Dari sini mereka bisa melanjutkan ke sekolah Guru atau Mulo pribumi selama 4 tahun.Inilah sekolah paling atas untuk bangsa pribumi biasa. Untuk golongan pribumi masyarakat bangsawan bisa memassuki HisInlandseSchool(HIS) selama 7 tahun, Mulo selama 3 tahun , dan Algemene Middlebare school (AMS) selama 3 tahun.
Untuk orang Timur asing disediakan sekolah seperti sekolah asing Cina 5 tahun dengan pengantar bahasa cina, HollanhChineseSchool(HCS)yang berbahasa Belanda selam 7 tahun.siswa HCS dapat melanjutkan ke Mulo.
Sedangkan orang Belanda disediakan sekolah rendah sampai perguruan tinggi, yaitu Eropese Legere School (ELS) 7 tahun, sekolah lanjutan HBS 3 tahun dan 5 tahun Lyceum 6 tahun, Maddelbe Misjeschool 5 tahun,Recht Hoge School 5 tahun.Sekolah kedokteran tinggi 8,5 tahun dan kedoteran gigi 5 tahun.
Setelah Indonesia merdeka, yakni tahun 1945, di awal-awal pemerintahannya pemerintah secara bertahap mulai mengkontruksi kurikulum sesuai dengan kondisi dan situasi saat itu.Tiga tahun setelah Indonesia merdeka mulailah pemerintah membuat kurikulum yang sederhana yang dinamakan “Rencana pelajaran” pada tahun 1947.
Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah “leer plan,” dalam bahasa Belanda artinya rencana pelajaran, lebih populer ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Perubahan kisi-kisi pendidikan lebihbersifat politis dari orientasi pendidikan Belanda lebih ke kepentingan Nasional. Asas pendidikan di tetapkan pancasila. Awalnya pada tahun 1947, pada saat itu diberi nama rentjana peladjaran 1947, dan pada saat itu kurikulum pendidikan di Indonesia masih di pengaruhi oleh sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang sehingga hanya meneruskan yang pernah di gunakan sebelumnya. Rentjana Peladjaran1947 berbangsa saat itu masih dalam kondisi semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain yang ada di muka bumi ini.
Rentjana Peladjaran 1947 baru dilaksanakan oleh sekolah pada tahun 1950. Bahkan sejumlah kalangan menyebutkan sejarah perkembangan kurikulum di awali dari kuikulum 1950, bentuknya memuat dua hal pokok:
Daftar mata pelajaran dan jam mengajar
Garis-garis besar pengajaran (GBP)
Rencana peladjaran1947 mengurangi pendidikan pikiran dalam arti kognitif namun yang diutamakan pendidikan watak atau kepribadian (value attitude) meliputi:
Kesadaran bernegara dan bermasyrakat.
Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari.
Perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.
Karena kurikulum ini lahir dikala Indonesia baru merdeka, maka pendidikan yang diajarkan lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia merdeka, berdaulat, dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Fokus Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pendidikan pikiran, melainkan hanya pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat.
Rencana Pelajaran Terurai 1952
Setelah Rentjana Peladjaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 diberi nama Rentjana Peladjaran Terurai 1952, kurikulum ini sudah mengarah pada sistem pendidikan Nasional. Hal yang paling menonjol dan menjadi ciri dari urikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Adanya kurikulum ini merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya, merinci setiap mata pelajaran sehingga dinamakan Rentjana Pelajaran Terurai 1952.. Silabus mata pelajaran menunjukkan secara jelas seorang guru mengajar satu mata pelajaran. Mata pelajaran diklsifikasikan dalam lima kelopok bidang studi:
Moral.
Kecerdasan.
Emosioanal atau artistik.
Keprigelan (keterampilan).
Jasmaniah.
Pada perkembangan rencana pelajaran lebih dirinci lagi pada setiap mata pelajaran. Pada masa itu di bentuk kelas masyarakat yaitu sekolah khusus bagi lulusan Sekolah Rakyat (SR) 6 tahun yang tidak melanjutakan ke SMP, kelas masyarakat mengajarkan keterampilan seperti pertanian, pertukangan dan perikanan ,tujuannya agar anak yang tidak mampu melanjutkan ke SMP bisa langsung bekerja .
Mata pelajaran yang ada pada kurikulum 1954 yakni untuk jenjang sekolah rakyat (SR) menurut rencana pelajaran 1947:
Bahasa Indonesia.
Bahasa daerah.
Berhitung.
Ilmu alam.
Ilmu hayat.
Ilmu bumi.
Sejarah.
Menggambar.
Menulis.
Seni suara.
Pekerjaan tangan.
Pekerjaan keputerian.
Gerak badan.
Kebersihan dan kesehatan.
Didikan budi pekerti.
Pendidikan agama.
Kurikulum Rencana Pendidikan 1964
Pada akhir kekuasaan Soekarno,kurikulum pendidikan yang lalu diubah menjadi rencana pendidikan 1964. Isu yang berkembang pada rencana pendidikan 1964 adalah konsep pembelajaran yang bersifat aktif, kreatif, dan produktif. Konsep pembalajaran ini mewajibkan sekolah membimbing anak agar mampu memikirkan sediri pemecahan persoalan (problem solving).
Rencana pendidikan 1964 melahirkan kurikulum 1964 yang menitik beratkan pada pengembngan cipta, rasa, karasa, karya, dan moral yang kemudian di kenal dengan istilah pancawardhana, Disebut pancawardhana karena lima kelompok bidang studi, yaitu perkembangan moral, kecerdasan, emosion/artistik, keprigelana (keterampilan) dan jasmaniah. Pada saat itu pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis yang disesuaikan dengan perkembangan anak.
Selain itu, dikenal juga cara belajar dengan metode gotong royong terpimpin. Selain pemerintah menerapkan hari sabtu sebagai hari krida, artinya pada hari sabtu anak diberi kebebasan berlatih kegiatan di bidang kebudayaan, kesenian, olah raga, dan permainan sesuaidengan minat siswa . Kurikulum 1964 adalah alat untuk membentuk manusia pancasilais yang sosialis Indonesia dengan sifat-sifat seperti ketetapan MPR NO II tahun 1964. Mata pelajaran yang ada pada kurikulum 1964 adalah
Pendidikan Kemasyarakatan.
Pendidikan Agama.
Bahasa Indonesai.
Bahasa Daerah.
Berhitung.
Pengetahuan Alamiah.
Pendidikan Kesenian.
Pendidikan Kprigelan.
Pendidikan Jasmani.
Kurikulum 1968
Usai tahun 1952 menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia kali ini di bernama Rentjana Pendidikan1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 menjadi yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah: bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program pancawardhana (Hamalik 2004, kurikulum) yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/ artistik, keprigelan dan jasmani.
Kurikulum 1968 merupakan bentuk pembaharuan dari kurikulum 1964, yaitu dilakukan perubahan struktur kurikulum pendidikan pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan pendidikan, kurikulum 1968 ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia pancasila sejati, kuat, sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Sedangkan isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat . Kelahiran kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti rencana pendidikan 1964 yang dicitrakan produk Orde Lama. Pada tujuan pembentukan manusia pancasila sejati, kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Dalam kurikulum ini sendiri terdapat 9 mata pelajaran.
Kurikulum 1968 dinamakan kurikulum bulat “hanya memuat mata pelajaran pokok- pokok saja,” karena muatan materi pelajaran bersifat teoritis dengan tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa disetiap jenjang pendidikan. Kurikulum 1968 lahir dengan pertimbangan politis-ideologis. Tujuan pendidikan pada kurikulum 1964 yang menciptakan masyarakat yang sosialis Indonesia diberangus, pendidikan pada masa ini lebih di tekankan untuk membentuk manusia pancasilais sejati.
Kurikulum 1968 bersifat correlated subject curiculum, artinya materi pelajaran tingkat bawah dikorelasikan dengan kurikulum sekolah lanjutan. Bidang studi pada kurikulum ini di kelompokan pada tiga kelompok besar, pembinaan pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.Jumlah pelajaran ada 9 mata pelajaran, yang memuat hanya mata pelajaran pokok saja.Materi pelajaran sendiri hanya teoritis, tidak lagi mengaitkan dengan permasalahan yang aktual di lingkunag sekitar. Metode pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pendidikan dan psikologi . Pada akhir tahun 1960-an salah satunya teori psikologi unsur, contoh penerapan metode pembelajaran ini adalah eja ketika pembelajaran membaca. Begitu pula pada mata pelajaran lain “anak belajar melalui unsur-unsur nalar dulu”. Mata pelajaran yang ada pada kurikulum 1964 adalah
Pendidikan Agama.
Pendidikan Kewarganegaraan.
Bahasa Indonesai.
Bahasa Daerah.
Pendidikan Olahraga.
Berhitung.
IPA.
Pendidikan Kesenian.
Pendidikan Kesejahteraan keluarga.
Pendidikan Kejujuran.
Kurikulum Berorientasi Pencapaian Tujuan (1975-1984)
Setelah Indonesia memasuki masa Orde Baru maka tatanan kurikulum mengalami perubahan dari “rentjana peladjaran” menuju kurikulum berbasis pada pencapian tujuan, Dalam konteks ini kurikulum subjek akademik merupakan model konsep kurikulum yang paling tua, sejak sekolah yang pertama dulu berdiri. Kurikulum ini menekankan pada isi atau materi pelajaran yang bersumber dari disiplin ilmu. Penysunan relatif mudah,praktis dan mudah digabungkan dengan model yang lain, .Kurikulum ini bersumber dari pendidikan klasik , perenalisme dan esensialisme, berorientasi pada masa lalu. Dalam kurikulum ini fungsi pendidikan adalah memelihara dan mewariskan ilmu pengetahuan, teknologi dan nilai-nilai budaya masa lalu kepada generasi muda.
Menurut kurikulum ini, belajar adalah berusaha mengusai isi atau materi pelajaran sebanyak-banyaknya, kurikulum subjek akademik tidak berarti terus tetap akan menekankan materi yang disampaikan. Dalam sejarah perkembangannya secara berangsur-angsur memperhatikan juga proses belajar yang dilakukan peserta didik.Proses belajar yang dipilih tergantung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut. Semua proses pembelajaran diarahkan dalam upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kurikulum ini mulai dikembangkan sejak tahun 1975 hingga 1984.
Dalam latar belakang kurikulum 1975, menteri pendidikan Republik Indonesia (Syarif Thayeb) menjelaskan tentang diterapkan kurikulum 1975 sebagai pedoman pelaksanaan pengajaran di sekolah penjelasan tersebut sebagai berikut:
Sejak tahun 1968 di negara Indonesia telah banyak perubuhan yang terjadi sebagai akibat lajunya pembangunan nasional, yang mempunyai dampak baru terhadap program pendidikan nasional. Hal-hal yang mempengaruhi program maupun kebijaksanaan pemerintah yang menyebabkan pembeharuan itu adalah:
Selama pelita 1 yang mulai pada tahun 1969 talah banyak timbul gagasan baru tentang pelaksanaan tentang pelaksanaan sistem pendidikan nasional.
Adanya kebijakan pemerintah dibidang pendidikan nasional yang digariskan dalam GBHN yang antara lain:”mengejar ketinggalan di bidang ilmu ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempercepat lajunya pembengunan”.
Adanya hasil analisis dan penilaian pendidikan nasional oleh departemen pendidikan dan kebudayaan mendorong pemerintah untuk meninjau kebijaksanaan pendidikan nasional.
Adanya inovasi dalam sistem belajar mengajar yang dianggap lebih efesien dan efektif yang telah memasuki dunia pendidikan Indonesia.
Keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan untuk meninjau sistem yang sudah berlaku.
Pada kurikulum 1968 terdapat hal-hal yang merupakan faktor kebijakan pemerintah yang berkembang dalam rangka pembangunan nasional tersebut belum diperhitungkan,sehingga diperlukan peninjauan terhadap kurikulum 1968 tersebut agar sesuai dengan tuntunan masyarakat yang sedang membangun.
Atas pertimbangan tersebut maka dibentuklah kurikulum tahun 1975. Segala upaya untuk mewujudkan strategi pembangunan di bawah pemerintah Orde Baru dengan program pelita dan repelita.
Adapun prinsip pelaksanaan kurikulum 1975 diantaranya sebagai berikut:
Berorientasi pada tujuan.Dalam hal ini pemerintah merumuskan tujuan-tujuan yang harus di kuasai oleh siswa yang lebih dekenal dengan hirearki tujuan pendidikan yang meliputi:tujuan nasional, tujuan instutusional, tujuan kurikuler, tujuan intruksional umum,dan tujuan intruksional khusus.
Menganut pendekatan integratif, dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif.
Menekankan kepada efesiensi dan efektivitas dalam hal waktu.
Menganut pendekatan sistem intruksioanal yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional (PPSI) sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik dapat di ukur dn dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang jawab) dan latihan (drill), Pembelajaran lebih banyak menggunakan teori Behaviorisme, yakni memandang keberhasilan dalam belajar ditentukan oleh lingkungan denga stumulus dari luar, dalam hal ini adalah sekolah dan guru.
Komponen kurikulum 1975 memuat ketentuan dan pedoman yang meliputi unsur-unsur berikut:
Tujuan institusional yang dimulai dari SD,SMP, maupun SMA adalah tujuan yang hendak di capai lembaga dalam melaksanakan program pendidikan.
Struktur program kurikuler adalah kerangka umum program pengajaran yang akan diberikan kepada tiap-tiap sekolah.
Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP),dengan namanya, meliputi:
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai setelah mengikuti program pengajaran yang bersangkutan selama masa pendidikan.
Tujuan intruksional umum adalah yang akan dicapai dalam setiap satuan pelajaran baik dalam satu semester maupun satu tahun.
Pokok bahasan yang harus dikembangkan untuk dijadikan bahan pelajaran bagi para siswa agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Urutan penyampaian bahan pelajaran satu tahun ketahun berikutnya dan dari semester kesemester berikutnya.
Sistem penyajian dengan pendekatan PPSI (Prosedur pengembangan sistem intruksional)
Sistem PPSI digunakan dengan tujuan, bahwa proses belajar mengajar sebagai suatu sistem yang senantiasa diarahkan pada pencapaian tujuan sistem pembelajaran dengan pendekatan sistem intruksional yang merupakan pembaharuan dalam sistem pengajaran diIndonesia.
PPSI adalah sistem yang paling berkaitan dari satu intruksi yang terdiri atas urutan dasain tugas progreisif bagi individu dalam belajar. Komponen PPSI adalah:
Pedoman perumusan tujuan memberikan petunjuk bagi guru dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus dengan berdasarkan pada pedalaman dan analisis terhadap pokok bahasan yang telah digariskan untuk mencapai tujuan intruksional dan tujuan kurikuler dalam GBPP.
Pedoman prosedur pengembangan alat penilain. Pedoman prosedur memberikan alat penilain dan memberikan petunjuk tentang prosedur penialain yang akan di tempuh, tentang tes awal (pretest) dan tes akhir (final test), tentang tes yang akan di gunakan dan tentang rumusan soal-soal tes sebagai bagian dari satuan pelajaran.Tes yang digunakan dalam PSSI di sebut critarion referenced test, yaitu test yang digunakan untuk mengukur efektifitas program atau pelaksanaan program.
Pedoman proses kegiatan belajar siswa. Pedoman proses kegiatan belajar siswa merupakan petunjuk bagi guru untuk menetapkan langkah-langkah kegiatan belajar siswa sesuai dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai dan tujuan khusus intruksional yang harus dicapai oleh para siswa.
Pedoman kegiatan guru. Pedoman ini merupakan petunjuk bagi guru untuk merencanakan program kegiatan bimbingan sehingga para siswa melakukan kegiatan sesuai dengan rumusan TIK (Tujuan Intruksional Khusus).
Pedoman pelaksanakan program. Pedoman ini berisi petunjuk dari program yang telah disusun, petunjuk-petunjuk itu berkenaan dengan dimualinya dengan pelaksanaan tes awal, dilanjutkan dengan penyampaian meteri pelajaran sampai pada pelaksanaan penilaian hasil belajar.
Pedoman perbaiakan atau revisi. Pedoman ini merupakan pengembangan setelah sebuah tes selesai dilaksanakan. Perbaikan dilaksanakan berdasarkan umpan balik yang diperoleh berdasarkan hasil penialain akhir.
Dengan melaksanakan PPSI, penialain diberikan pada setiap akhir pelajaran atau pada akhir satuan pelajaran, inilah yang membedakan kurikulum 1975 dengan kurikulum sebelumnya yaitu memberikan penilaian pada akhir semester akhir tahun saja.
Sistem bimbingan dan penyuluhan. Setiap siswa memiliki tingkat kecepatan belajar yang tidak sama,disamping itu mereka memerlukan pengarahan yang akan mengembangkan mereka menjadi manusia yang mampu meraih masa depan yang lebih baik.Dalam hal ini perlu adanya bimbingan dan konseling bagi para siswa untuk menentukan masa depan sesuai dengan cita-cita anak itu sendiri.
Superervisi dan Administrasi. Sebuah lembaga pendidikan memerlukan alat untuk mencapai tujuan yang terarah yang lebih baik, agar tecapai tujuan pendidikan nasional. Perbaikan harus ada mulai dari segi siswa, guru, dan administrasi sebuah sekolah.Salah satu yang tidak kalah penting kehadiran supervisor sangat diharapkan karena bimbingan supervisor sangat membantu untuk memotivasi, mengarahkan, dan membimbing dalam melaksanakan berjalannya lembaga pendidikan. Bagaimana teknik supervisi dan administrasi sekolah dapat dipelajari dalam pada pedoman pelaksanaan kurikulum tentang supervisi dan administrasi, ketujuh unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang mewarnai kurikulum 1975 sebagai satu sistem pengajaran.
Mata pelajaran yang ada dalam kurikulum tahun 1975 adalah:
Pendidika agama Islam.
Pendidkkan Moral Pancasila.
Bahasa Indonesia.
Ilmu Pengetahuan Sosial.
Matematika.
Ilmu Pengetahuan Alam.
Olah raga.
Kesenian.
Keterampilan khusus.
Kurikulum 1984
Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntunan ilmu pengetahuan dan teknologi . Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyatakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 kepada kurikulum 1984. Karena pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984, secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 adalah.
Terdapat beberapa unsur GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
Terdapat ketidak serasian antara meteri kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik.
Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaan di sekolah.
Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus di ajarkan hampir di setiap jenjang.
Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk pendidikan luar sekolah.
Pengadaan program studi baru untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.
Atas dasar perkembangan itu maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan dan tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap pendidikan dalam kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi.Oleh karena itu, diperlukan perubahan kurikulum. kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. Kurikulum 1984 memilki sebagai berikut:
Berorientasi kepada tujuan institusional. Didasari dari pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.
Pendekatan pengajaran berpusat pada anak didik Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Materi pejaran dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral, spiral adalah pendekatan yang di gunakan adalah pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan.
Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan, konsep-konsep yang dipelajari siswa harus berdasarkan pengertian. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajari.
Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan mental siswa, dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan kongkrit, semikongkret, semiabstrak dan abstrak, dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan dari yang mudah menuju ke yang sukar, dari yang sederhana menuju ke yang kompleks.
Menggunakan pendekatan keterampilan proses, keterampilan proses adalah pendekatan belajar mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya.Pendekatan keterampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran.
Adapun Kebijakan dalam penyususnan kurikulum 1984 adalah sebagai berikut:
Adanya perubahan dalam perangkat mata pelajaran inti, kalau pada kurikulum 1975 terdapat delapan pelajaran inti, pada kurikulum 1984 terdapat enam belasa mata pelajaran inti, Mata pelajaran yang termasuk kelompok inti tersebut adalah: Agama, Pendidikan Moral Pancasila, pendidikan sejarah perjuangan bangsa , Bahasa dan sastra Indonesia, Geografi Indonesia, Geografi Dunia, Ekonomi, Kimia, Fisika, biolagi, Matematika, Bahas Inggris, Kesenian, Keterampilan, Pendidikan Jasmani dan olah raga, Sejarah dunia dan Nasional.
Penambahan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan jurusan dan bakat siswa.
Perubahan program jurusan kalau semula pada kurikulum 1975 terdapat 3 jurusan di SMA, yaitu IPA, IPS, Bahasa, maka dalam kurikulum 1984 jurusan di nyatakan dalam program A dan B, program A terdiri dari:
A1, penekanan pada mata pelajaran fisika.
A2, penekanan pada mata pelajaran Biologi.
A3, penekanan pada mata pelajarn Ekonomi.
A4, penekanan pada mata pelajaran Bahas dan Budaya.
Sedangkan program B adalah program yang mengarah kepada keterampilan kejuruan yang akan dapat menrjunkan siswa langsung berkecimpung di masyarakat, Tetapi mengingat program B memerlukan sarana sekolah yang cukup, maka program ini untuk sementara ditiadakan. Kurikulum 1984 dilaksanakan secara bertahap dari kelas 1 SMA berturut – turut sampai berikutnya di kelas yang lebih rendah
Kurikulum 1994
latar belakang di berlakukan kurikulum 1994 adalah sesuai dengan undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang di atur oleh undang-undang dan Untuk mewujudkan pembangunan Nasional di bidang pendidikan diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan Nasional yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian , perkembangan masyrakat serta kebutuhasn pembangunan serta dengan berlakunya undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan Nasional maka kurikulum sekolah menengah umum perlu disesuaikan denga peraturan perundang-undang tersebut.
Pada kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 1984 proses pembelajaran menekankan pada pola Pengajaran yang berorientasi pada tiori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena disesuaikan dengan suasana pendidikan di LPTK ( Lembaga Lembaga pendidikan dan lembaga kependidikan). Pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar.Akibat saat itu dibentuk tim basic science yang salah satu tugasnya ikut mengambangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajara pada priode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup banyak.
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurna kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan undang –undang no 2 tahun 1984 tentang sistem pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem catur wulan, dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.
Ciri-ciri yang dominan dari pemberlakuan kurikulum 1994 di antaranya:
Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan
Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi pada materi (isi)
Kurikulum 1994 bersifat populasi, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri.
Dalam melaksanakan kegiatan , guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen. Divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban) dan penyelidikan.
Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berfikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan sola dan pemecahan masalah.
Pengajaran dari hal yang kongkrit ke hal yang abestrak, dari hal yang mudah ke yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.
Pengulangan – pengulangan materi yang di anggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented) di anttaranya sebagai adalah:
Bahan belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran.
Materi pelajaran dianggap terlalu sulit karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berfikir siswa dan kurang bermakna karena kurang terkait denga aplikasi kehidupan sehari-hari.
Permasalahan yang dihadapi ketika berlangsung pe;aksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong pera pembuat kebijakan untuk penyempurnaan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan tersebut dilkakukannya suplemen kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum yaitu (a) penyempurnaan kurikulum secara berterus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum denga perkembangan ilmun pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan perkembangan ilmun pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuah masyarakat, (b) Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk menpadatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin di capai dengan beban belajar, potensi siswa dan keadaan lingkungan serta sarana pendukung.
Penyempurna kurikulum dikukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa
Penyempurnaan kurikulum memprtimbangkan berbagai aspek terkait seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi dan sarana dan prasarana termasuk bu,ku pelajaran.
Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikan dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan saran prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah. penyempurnaan 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.
Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004
Kurikulum yang berorientasi pada pencapaian tujuan (1975-1994) berimplikasi pada penguasaan kognitif lebih dominan namun kurang dalam penguasaan pada keterampilan (skill), sehingga lulusan pendidikan kita tidak memilki kemampuan yang memadai terutama yang bersifat aplikatif, sehingga diperlukan kurikulum yang berorientasi pada pengusaan kompetensi secara holistik.
Kemampuan secara holistik ini sejalan dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia, tidak terlepas dari pengeruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dan budaya. Perubahan secara terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan Nasional termasuk penyempurnaan kirikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, untuk itu upaya peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh yang mencakup pengembangan dimensi manusia indonesia seutuhnya . yakni aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, pengetahuan, keterampilan, seni, olah raga dan prilaku.
Pengembangan aspek- aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup (life skill) yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri dan berhasil di masa datang. Dengan demikian pesrta didik memiliki ketangguhan, kemandirian dan jati diri yang dikembangkan melalui pembelajaran atau pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan , penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan peserta didik yang dimaksud itu telah diamanatkan dalam kebijakan – kibijakan nasional sebagai berikut :
Perubahan keempat UUD 1945 pasal 31 tentang Pendidikan
Tap MPR NO IV/MPR/1999 tentang GBHN tahun 1999-2004
Undang –mundang tentang sistem pendidika Nasional
Pemberlakuan undang – undang nomor 22 tahun 1999 tentang otonomindaerah
Peraturan pemerintah nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan
Atas dasar itulah maka indonesia memilih untuk memberlakukan kurikulum KBK sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan serta penyempurnaan dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)
Kurikulum 2004 lebih populer denga sebutan KBK (kurikulum berbasis Kompetensi) lahir sebagai respon dari tuntutan reformasi, diantaranya UU No 2 1999 tentang pemerintah daerah, UU No 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom dam Tap MPR No IV/MPR/1999 tentang arah kebijakan pendidikan nasional.
KBK (kurikulum berbasis Kompetensi) tidak lagi mempersoalkan proses belajar, proses pembelajaran dipandang merupakan wilayah otoritas guru, yang terpenting pada tingkatan tertentu peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan.Kompetensi dimaknai sebagai perpaduan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, yang refleksinya dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Seseorang telah memiliki kompetensi dalam bidang tersebut,yang tercermin dalam pola perilaku sehari-hari..
Kompetensi Mengandung beberapa aspek yaitu knowledge, understanding, skill, value, attitude dan interest. Dengan mengembangkan aspek-aspek ini diharapkan siswa memahami , menguasai dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, materi-materi yang telah dipelajari, adapun kompetensi sendiri diklasifikasikan menjadi : kompetensi lulusan, (dimiliki setelah lulus) , kompetnsi dasar (dimiliki setelah mempelajari satu topik atau tema), kopetensi standar (dimiliki setelah satu mata pelajaran), kompetensi akademik (pengetahuan dan keterampilan dalam menyelasaikan persolana), kompetensi okuposional (kesiapan dan kemampuan beradaptasi dengan dunia kerja),kompetensi kultural (adaptasi terhadap lingkungan dan budaya masyarakat Indonesia) dan kompetensi temporal (memanfaatkan kemampuan dasar yang dimiliki siswa.
Mengacu pada kompetensi yang dikembangkan oleh Anderson dan Krathwhol (2002:i) , maka kompetensi utama dapat dikelompomkan menjadi 4 (empat) gugus:
Factual knowledge
Coceptual knowledge
Procedural kowledge
Metacognitive knowledge
Factual knowleledge
Beberapa keunggulan KBK (kurikulum berbasis Kompetensi) dibandingkan kurikulum 1994 adalah :
KBK (kurikulum berbasis Kompetensi) yang dikedepankan penguasaan materi hasil dan kompetensi paradigma pembelajaran versi UNESCO :learning to knowledge, learning to do, learning to live together dan learning to be.
Silabus ditentukan secara seragam, peran serta guru dan siswa dalam proses pembelajaran, silabus menjadi kewenangan guru,
Jumlah pelajaran 40 jam perminggu 32 jam perminggu, tetapi jumlah mata pelajaran belum dikurangi
Metode pembalajaran keterampilan proses dengan melahirkan metode pembelajaran PAKEM dan CTL.
Sistem penialaian lebih menitik beratkan pada aspek kognitif, penialaian memadukan keseimbangan kognitif, psikomotorik dan afektif dengan menekankan penialaian berbasis kelas.
KBK (kurikulum berbasis Kompetensi) memillikiempat kompenen yaitu kurikulum dan hasi belajar, (KHB), penialain berbasis kelas (PBK) , kegiatan belajar mengajara (KBM) dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah (PKBS) yang perlu dicapai tentang perencanaan pengembangan kompetensi siswa sampai anak menjadi dewasa, PKB adalah melakukan penialaian secara seimbang din tiga ranah, dengan menggunakan instrumen tes dan non tes, yang berupa portofolio, produk, kinerja , KBM di arahkan pada kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman, guru tidak bertindak satu – satunya sumber belajar, tetapi sebagai motivator yang dapat menciptakan suasana yang memungkinkan siswa dapat belajar secara penuh dan optimal
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP)
Kurikulum ini hampir mirip dengan Kurikulum 2004. Perbedaan menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada jiwa dari desentralisasi sistem pendidikan Indonesia. Pada Kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Guru dituntut mampu mengembangkan sendiri silabus dan penilaian sesuai kondisi sekolah dan daerahnya. Hasil pengembangan dari semua mata pelajaran dihimpun menjadi sebuah perangkat dinamakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum oprasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia,KTSP secara yuridis diamanatkan oleh undang – undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional dan peraturan pemenrintah Republik Indonesia nomer 19 tahun 2005 tentang standar Nasional pendidikan , penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007 / 2008 dengan mengacu pada standar Isi (SI) dan standar kompetensi lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagai mana yang di terbitkan malalui peraturan menteri Pendidkkan Nasional masing – masing nomor 22 tahun 2006 dan nomer 23 tahun 2006, serta panduan pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.
Pada prinsipnya KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari standar Isi, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP yang terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, strukutr dan muatan kurikulum tingakat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus, pelaksanaan KTSP mengacu pada permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.
Standar Isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan , kompetensi adalah bahan kajian mata pelajaran dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar Isi merupakan pedoman untuk mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat:
Kerangka dasar dan struktur kurikulum
Bahan Ajar
Kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan
Kalender pendidikan.
SKL digunakan sebagai pedoman penialaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidkan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran, kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahaun dan keterampilan sesuai dengan standar Nasional yang btelah disepakati.
Pemberlakuan KTSP sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan menteri pendidikan Nasional no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan standar Isi dan SKL, Dditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah. Dengan kata lain pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada kepala sekolah . dalam arti tidak ada intervensi Dinas Pendidikan atau Departemen pendidikan Nasional. Penyususnan KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli dari perguruan tinggi. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam menyusun KTSP maka KTSP yang di susun akan sesuai dengan aspirasi masyarakat, situasi dan kodisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP dimana panduan tersebut berisi sekurang-kurangnnya model-model kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tersebut dikembangkan sesuai sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah atau karakteristik daerah, sesuai dengan sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
Tujuan diterapkan KTSP adalah untuk pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipasi dalam pengembangan kurikulum.
Adapun perinsip – perinsip kurikulum KTSP adalah:
Berpusat pada potensi perkembangan serta kebutuhan peserta didik dan lingkungannya
Beragam dan terpadu. kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman peserta didik,kondisi daerah dan tidak membedakan agama, suku , budaya,adat serat status sosial konomi dan gender , kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal dan penegmbangan diri secara terpadu.
Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan , teknologi dan seni, kurikulum dikembangkan atas kesadaran bahwa ilmu pengetahuan , teknologi dan sni berkembang scara dinamis.
Relevan dengan kebutuhan
Kurikulum di kembangakan dengan memperhatikan relavansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja
Kurikulum bersifat menyeluruh dan berkesinambungan . Substansi kurikulum direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan.
Kurukulum bermuatan belajar sepanjang hayat dan kurikulum di arahkan kepada proses pengembangan , pembudayaan peserta didik
Keseimbangan kurikulum antara kepentingan global, Nasional dan lokal untuk membanguan kehidupan masyarakat.
Kurikulum 2013
Kurikulum ini adalah pengganti kurikulum KTSP. Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dan aspek sikap dan perilaku. Di dalam Kurikulum 2013, terutama di dalam materi pembelajaran terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb, sedangkan materi yang ditambahkan adalah materi Matematika.
Kelebihan (Menurut Pengamat Pendidikan, Dharmaningtyas). Pengamat Pendidikan, Dharmaningtyas, mencoba memaparkan secara rinci kelebihan kurikulum 2013 dalam diskusi bertajuk Akses Pendidikan Berkualitas untuk Semua besutan Network for Education Watch (NEW) atau Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yaitu:
Memiliki konsep yang jelas terhadap lulusan yang ingin dicapai. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kompetensi ditentukan masing-masing di tiap mata pelajaran. Sehingga, ibarat baju, semua bagiannya berasal dari bahan berbeda. Tapi kurikulum 2013 tidak dimulai dari potongan tapi sudah ada model lulusan yang ditetapkan. Sehingga kompetensi masing-masing mata pelajaran menyesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Mengemas mata pelajaran menjadi lebih maknawi dalam kehidupan sehari-hari dengan model pembelajaran tematik integratif dan pendekatan saintifik. Dalam kurikulum 2013 proses pembelajaran murid aktif, guru sebagai fasilitator maupun motivator, semua aspek kehidupan bisa menjadi sumber pembelajaran, serta melahirkan manusia pembelajar
Kekurangan kurikulum 2013 (Menurut Pengamat Pendidikan, Dharmaningtyas) yaitu :
Adanya kontradiksi, karena mau melahirkan manusia yang kreatif, kritis, inovatif, tapi penuh materi yang normatif karena ada penambahan jam belajar agama
Berharap proses pembelajaran lebih leluasa tapi ada penambahan jam pelajaran.
kurikulum 2013 cocok untuk sekolah yang sudah maju dan gurunya punya semangat belajar tinggi, masyarakat yang sudah terdidik, muridnya memiliki kemampuan dan fasilitas setara, serta infrastruktur telekomunikasi dan transportasi sudah merata sehingga tidak menghambat proses
Kekurangan lainnya terletak pada penggunaan Ujian Nasional (UN) sebagai evaluasi standar proses pembelajaran siswa aktif.
Tahap Implementasi Kurikulum 2013 (K13). Sejak tahun 2013/2014, Indonesia mulai menerapkan Kurikulum 2013 di sekolah di Indonesia untuk kelas 1, 4, 7 dan 10. Implementasi Kurikulum 2013 ini akan dilakukan secara bertahap sampai diterapkan seluruh kelas di Indonesia pada tahun 2020. Penerapan dilakukan bertahap sejalan dengan proses persiapan sekolah dan guru di seluruh Indonesia untuk dapat menerapkan Kurikulum 2013 secara optimal.
Kurikulum 2013 adalah pengembangan dari Kurikulum tahun 2006 yang disusun mengacu pada Tujuan Pendidikan Nasional dan berdasarkan evaluasi kurikulum sebelumnya dalam menjawab tantangan yang dihadapi bangsa di masa depan. Pengembangan Kurikulum 2013 khususnya terletak pada:
Keseimbangan Pengetahuan – Sikap – Keterampilan
Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran
Model Pembelajaran (Penemuan, Berbasis Proyek dan Berbasis Masalah)
Penilaian Otentik.
Untuk selengkapnya Kurikulum 2013 akan dibahas lebih rinci di bab berikutnya.
BAB II
KURIKULUM 2013
Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Bangsa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak akan bisa maju selama belum memperbaiki kualitas sumber daya manusia bangsa kita. Kualitas hidup bangsa dapat meningkat jika ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan. Dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif, dan produktif. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan diperlukan kurikulum yang mampu diterima oleh semua peserta didik.
Dalam perkembangannya sekarang diberlakukan kurikulum 2013 yang merupakan hasil dari evaluasi kurikulum sebelumnya. Pengembangan kurikulum 2013 diorientasikan untuk peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Kurikulum ini diharapkan mampu menyongsong peserta didik agar bisa memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik.
Pengertian Kurikulum 2013
Dalam hal ini Kurikulum 2013 yaitu kurikulum yang terintegrasi, maksudnya adalah suatu model kurikulum yang dapat mengintegrasikan skill, themes, concepts, and topics baik dalam bentuk within singel disciplines, across several disciplines and within and across learners.
Dengan kata lain bahwa kurikulum terpadu sebagai sebuah konsep dapat dikatakan sebagai sebuah sistem dan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa disiplin ilmu atau mata pelajaran/bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna dan luas kepada peserta didik.
Dikatakan bermakna karena dalam konsep kurikulum terpadu, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu secara utuh dan realistis. Dikatakan luas karena yang mereka perolah tidak hanya dalam satu ruang lingkup saja melainkan semua lintas disiplin yang dipandang berkaitan antar satu sama lain.
Inti dari Kurikulum 2013 ada pada upaya penyederhanaan dan sifatnya yang tematik-instegratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap dalam menghadapi tantangan masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan.
Titik berat Kurikulum 2013 adalah bertujuan agar peserta didik atau siswa memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan:
Observasi
Bertanya (wawancara)
Bernalar, dan
Mengkomunikasikan (mempresentasikan) apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pelajaran.
Adapun obyek pembelajaran dalam Kurikulum 2013 adalah: fenomena alam, sosial, seni, dan budaya. Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik.
Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis karakter dan kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari SKL. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum diartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik.
Dalam kurikulum 2013 memiliki karakteristik diantaranya:
Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) satuan pendidikan dan kelas, dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran.
Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran.
Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dijenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah berimbang antara sikap dan kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi).
Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti.
Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal) diikat oleh kompetensi inti.
Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD). Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut.
Landasan Pengembangan Kurikulum 2013
Kurikulum menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (19) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (kebudayaan, 2013).
Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006. Pengembangan kurikulum 2013 diorientasikan untuk peningkatan dan keseimbangan yang mencakup kompetensi sikap (attitude), pengetahuan (knowledge), dan keterampilan secara terpadu (skill). Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan pasal 35: kompetensi lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
Pengembangan Kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yuridis, dan konseptual sebagai berikut:
Landasan Filosofis
Filosofi Pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan.
Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat.
Landasan Yuridis
RPJMM 2010-2014 Sektor Pendidikan, tentang Perubahan Metodologi Pembelajaran dan Penataan Kurikulum.
PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
INPRES Nomor 1 Tahun 2010, tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional, penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasrkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.
Landasan Konseptual
Relevansi Pendidikan (link and match)
Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter
Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning)
Pembelajaran aktif (student active learning)
Penilaian yang valid, utuh, dan menyeluruh.
pengembangan Kurikulum 2013 perlu dilakukan karena adanya berbagai tantangan yang dihadapi, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal, sebagai berikut (kebudayaan, 2013):
Tantangan Internal
Tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 Standar Nasional Pendidikan yang meliputi Standar Pengelolaan, Standar Biaya, Standar Sarana Prasarana, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, dan Standar Kompetensi Lulusan.
Tantangan internal lainnya terkait dengan faktor perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif.
Tantangan Eksternal
Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan di masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pendagogi, serta berbagai fenomena negatif yang mengemuka.
Tantangan masa depan antara lain globalisasi (WTO, ASEAN Community, APEC, CAFTA), Masalah lingkungan hidup, Kemajuan teknologi informasi, Konvergensi ilmu dan teknologi, Ekonomi berbasis pengetahuan, Kebangkitan industri kreatif dan budaya, Pergeseran kekuatan ekonomi dunia,Pengaruh dan imbas teknosains, Mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan, Materi TIMSS dan PISA.
Kompetensi masa depan antara lain kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas dalam kehidupan, memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya dan memiliki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan.
Persepsi masyarakat antara lain terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa terlalu berat, kurang bermuatan karakter.
Perkembangan pengetahuan dan pendadogi antara lain neurologi, psikologi, observation based (discovery) learning dan collaborative learning.
Fenomena negatif yang mengemuka antara lain perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, dan kecurangan dalam ujian.
Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan dapat terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan pola pikir dalam proses pembelajaran, seperti sebagai berikut (kebudayaan, 2013):
dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa,
dari satu arah menuju ineraktif,
dari isolasi menuju lingkungan jejaring,
dari pasif menuju kreatif menyelidiki,
dari abstrak menuju konteks dunia nyata,
dari pembelajaran pribadi menuju pembelajaran berbasis IT atau kelompok,
dari luas menuju prilaku khas memberdayakan kaidah keterkaitan,
dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala arah,
dari alat tunggal menuju alat media,
dari hubungan satu arah menuju kooperatif,
dari produksi massa meuju kebutuhan pelanggan,
dari usaha sadar tunggal menuju jamak,
dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak,
dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan,
dari pemikiran faktual menuju kritis,
dari penyampaian pengetahuan
Tujuan Pengembangan Kurikulum 2013
Seperti yang dikemukakan di berbagai media massa, bahwa melalui pengembangan Kurikulum 2013 kita akan menghasilkan insan Indonesia yang: produktif, kreatif, inovatif, afektif; melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam hal ini, pengembangan kurikulum difokuskan pada pembetukan kompetensi dan karakter peserta didik, berupa paduan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat didemostrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya secara kontekstual. Kurikulum 2013 memungkinkan para guru menilai hasil belajar peserta didik dalam proses pencapaian sasaran belajar, yang mencerminkan penguasaan dan pemahaman terhadap apa yang dipelajari. Oleh karena itu, peserta didik perlu mengetahui kriteria penguasaan kompetensi dan karakter yang akan dijadikan sebagai standar penilaian hasil belajar, sehingga para peserta didik dapat mempersiapkan dirinya melalui penguasaan terhadap sejumlah kompetensi dan karakter tertentu, sebagai prasyarat untuk melanjutkan ke tingkat penguasaan kompetensi dan karakter berikutnya.
Mengacu pada penjelasan UU No. 20 Tahun 2003, bagian umum dikatakan, bahwa: “Strategi pembangunan pendidikan nasional dalam undang-undang ini meliputi: ....., 2. pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, ....” dan pada penjelasan Pasal 35, bahwa “Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.” Maka diadakan perubahan kurikulum dengan tujuan untuk “Melanjutkan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.”
Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013
Sesuai dengan kondisi negara, kebutuhan masyarakat, dan berbagai perkembangan serta perubahan yang sedang berlangsung dewasa ini, dalam pengembangan Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi perlu memperhatikan dan mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
Pengembangan kurikulum dilakukan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional
Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik
Mata pelajaran merupakan wahana untuk mewujudkan ketercapaian kompeten
Standar Kompetensi Lulusan dijabarkan dari tujuan pendidikan nasional dan kebutuhan masyarakat, negara, serta perkembangan global
Standar Isi dijabarkan dari Standar Kompetensi Lulusan
Standar Proses dijabarkan dari Standar Isi
Standar Penilaian dijabarkan dari Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi dan Standar Proses
Standar Kompetensi Lulusan dijabarkan ke dalam Kompetensi Inti
9. Kompetensi Inti dijabarkan ke dalam Kompetensi Dasar yang dikontekstualisasikan dalam suatu mata pelajaran
Kurikulum satuan pendidikan dibagi menjadi kurikulum tingkat nasional, daerah dan satuan pendidikan
tingkat nasional dikembangkan oleh Pemerintah
tingkat daerah dikembangkan oleh pemerintah daerah
tingkat satuan pendidikan dikembangkan oleh satuan pendidikan.
Implementasi Kurikulum 2013
Standar Kompetensi Lulusan
Pengertian
Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Tujuan
Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.
Ruang Lingkup
Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Berikut ini kompetensi lulusan yang diharapkan dapat dicapai oleh lulusan SMA/MA/SMK/MAK/SMALB/Paket C:
Dimensi Sikap
Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
Pengetahuan
Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.
Keterampilan
Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.
Standar Kompetensi Lulusan menunjukkan kualitas yang harus dimiliki peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu, yang menggambarkan kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik. Keberhasilan Kurikulum 2013 dapat diketahui dari perwujudan indikator Standar Kompetensi Lulusan dalam pribadi peserta didik secara utuh atau terwujudnya lulusan yang berkualitas, produktif, kreatif, dan mandiri.
Standar Isi
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan ditetapkan bahwa Standar Isi adalah kriteria mengenai ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Ruang lingkup materi dirumuskan berdasarkan kriteria muatan wajib yang ditetapkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, konsep keilmuan, dan karakteristik satuan pendidikan dan program pendidikan. Selanjutnya, tingkat kompetensi dirumuskan berdasarkan kriteria tingkat perkembangan peserta didik, kualifikasi kompetensi Indonesia, dan penguasaan kompetensi yang berjenjang.
Tingkat Kompetensi
Dalam usaha mencapai Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana telah ditetapkan untuk setiap satuan dan jenjang pendidikan, penguasaan kompetensi lulusan dikelompokkan menjadi beberapa Tingkat Kompetensi. Tingkat kompetensi menunjukkan tahapan yang harus dilalui untuk mencapai kompetensi lulusan yang telah ditetapkan dalam Standar Kompetensi Lulusan. Tingkat Kompetensi merupakan kriteria capaian Kompetensi yang bersifat generik yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada setiap tingkat kelas dalam rangksa pencapaian Standar Kompetensi Lulusan. Tingkat Kompetensi terdiri atas 8 (delapan) jenjang yang harus dicapai oleh peserta didik secara bertahap dan berkesinambungan. Tingkat Kompetensi tersebut diterapkan dalam hubungannya dengan tingkat kelas sejak peserta didik mengikuti pendidikan TK/RA, Kelas I sampai dengan Kelas XII jenjang pendidikan dasar dan menengah. Tingkat Kompetensi TK/RA bukan merupakan prasyarat masuk Kelas I.
Tingkat Kompetensi dikembangkan berdasarkan kriteria; (1) Tingkat perkembangan peserta didik, (2) Kualifikasi kompetensi Indonesia, (3) Penguasaan kompetensi yang berjenjang. Selain itu Tingkat Kompetensi juga memperhatikan; tingkat kerumitan/kompleksitas kompetensi, fungsi satuan pendidikan, dan keterpaduan antar jenjang yang relevan.
Kompetensi yang bersifat generik mencakup 3 (tiga) ranah yakni sikap, pengetahuan dan keterampilan. Ranah sikap dipilah menjadi sikap spiritual dan sikap sosial. Pemilahan ini diperlukan untuk menekankan pentingnya keseimbangan fungsi sebagai manusia seutuhnya yang mencakup aspek spiritual dan aspek sosial sebagaimana diamanatkan dalam tujuan pendidikan nasional. Dengan demikian, Kompetensi yang bersifat generik terdiri atas 4 (empat) dimensi yang merepresentasikan sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Berikut ini kompetensi yang diharapkan dapat dicapai oleh kelas X-XI SMA/MA/SMALB/PAKET C atau Tingkat Kompetensi 5:
Sikap Spiritual
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
Sikap Sosial
Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
Pengetahuan
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
Keterampilan
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai dengan kaidah keilmuan
Standar Isi diturunkan dari Standar Kompetensi Lulusan melalui Kompetensi Inti yang bebas mata pelajaran. Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Kompetensi yang ingin dicapai merupakan pernyataan tujuan (goal statement) yang hendak diperoleh peserta didik, menggambarkan hasil belajar (learning outcomes) pada aspek pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Standar Isi mencakup struktur kurikulum yang berisi acuan mata pelajaran pada setiap jenjang pendidikan.
Standar Proses
Pengertian
Standar Proses adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Standar Proses dikembangkan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas ketercapaian kompetensi lulusan.
Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi maka prinsip pembelajaran yang digunakan:
Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;
Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
Pembelajaranyang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas.
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.
Terkait dengan prinsip di atas, dikembangkan standar proses yang mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.
Karakteristik Pembelajaran
Karakteristik pembelajaran pada setiap satuan pendidikan terkait erat pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi. Standar Kompetensi Lulusan memberikan kerangka konseptual tentang sasaran pembelajaran yang harus dicapai. Standar Isi memberikan kerangka konseptual tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang diturunkan dari tingkat kompetensi dan ruang lingkup materi.
Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan. Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda. Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta. Keterampilan diperoleh melalui aktivitas“ mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta”. Karaktersitik kompetensi beserta perbedaan lintasan perolehan turut serta mempengaruhi karakteristik standar proses. Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antarmata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran) perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).
Sikap: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati dan mengamalkan
Pengetahuan: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi
Keterampilan: mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji dan mencipta
Karakteristik proses pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik kompetensi. Pembelajaran tematik terpadu di SD/ MI/ SDLB/ Paket A disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
Karakteristik proses pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik kompetensi. Pembelajaran tematik terpadu di SMP/ MTs/ SMPLB/ Paket B disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Proses pembelajaran di SMP/ MTs/ SMPLB/ Paket B disesuaikan dengan karakteristik kompetensi yang mulai memperkenalkan mata pelajaran dengan mempertahankan tematik terpadu pada IPA dan IPS.
Karakteristik proses pembelajaran di SMA/ MA/ SMALB/ SMK/ MAK/ Paket C/ Paket C Kejuruan secara keseluruhan berbasis mata pelajaran, meskipun pendekatan tematik masih dipertahankan.
Standar Proses pada SDLB, SMPLB, dan SMALB diperuntukkan bagi tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, dan tuna laras yang intelegensinya normal.
Secara umum pendekatan belajar yang dipilih berbasis pada teori tentang taksonomi tujuan pendidikan yang dalam lima dasawarsa terakhir yang secara umum sudah dikenal luas. Berdasarkan teori taksonomi tersebut capaian pembelajaran dapat dikelompokkan dalam tiga ranah yakni: ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Penerapan teori taksonomi dalam tujuan pendidikan di berbagai negara dilakukan secara adaptif sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengadopsi taksonomi dalam bentuk rumusan sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Proses pembelajaran sepenuhnya diarahkan pada pengembangan ketiga ranah tersebut secara utuh/holistik, artinya pengembangan ranah yang satu tidak bisa dipisahkan dengan ranah lainnya. Dengan demikian proses pembelajaran secara utuh melahirkan kualitas pribadi yang mencerminkan keutuhan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Perencanaan Pembelajaran
Desain Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana PelaksanaanPembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran. Penyusunan Silabus dan RPP disesuaikan pendekatan pembelajaran yang digunakan.
Silabus
Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran. Silabus paling sedikit memuat:
Identitas mata pelajaran (khususSMP/MTs/SMPLB/Paket B dan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK/Paket C/ Paket C Kejuruan);
Identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan kelas;
Kompetensi inti, merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran;
Kompetensi dasar, merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran;
Tema(khususSD/MI/SDLB/Paket A);
Materi pokok, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi;
Pembelajaran, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan;
Penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik;
Alokasi waktu sesuai dengan jumlah jam pelajaran dalam struktur kurikulum untuk satu semester atau satu tahun; dan
Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau sumber belajar lain yang relevan.
Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan pola pembelajaran pada setiap tahun ajaran tertentu. Silabus digunakan sebagai acuan dalam pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Komponen RPP terdiri atas:
Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan
Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
Kelas/semester;
Materi pokok;
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi;
Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai;
Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran;
Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan
Penilaian hasil pembelajaran.
Prinsip Penyusunan RPP
Dalam menyusun RPP hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
Perbedaan individual peserta didikantara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
Partisipasi aktif peserta didik.
Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.
Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
Pemberian umpan balik dan tindak lanjutRPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remidi.
Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.
Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.
Pelaksanaan Pembelajaran
Pengelolaan Kelas
Salah satu indikator guru yang profesional ialah memiliki kemampuan pengelolaan kelas yang baik sehingga pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Misalnya, guru menyesuaikan pengaturan tempat duduk peserta didik sesuai dengan tujuan dan karakteristik proses pembelajaran. Dibawah ini bentuk-bentuk pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru:
Volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik.
Guru wajib menggunakan kata-kata santun, lugas dan mudah dimengerti oleh peserta didik.
Guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik.
Guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, dan keselamatan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran.
Guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
Guru mendorong dan menghargai peserta didik untuk bertanya dan mengemukakan pendapat.
Guru berpakaian sopan, bersih, dan rapi.
Pada tiap awal semester, guru menjelaskan kepada peserta didik silabus mata pelajaran; dan
Guru memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan.
Pelaksanaan Pembelajaran
Dalam melaksanakan pembelajaran, guru telah mempersiapkannya dengan membuat RPP. Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP, yang berisi kegiatan pendahuluan, inti dan penutup.
Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
Memberi motivasi belajar siswa secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional dan internasional;
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan
Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
Kegiatan Inti
Kegiatan inti menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Pemilihan pendekatan tematik dan/atau tematik terpadu dan/atau saintifik dan/atau inkuiri dan penyingkapan (discovery) dan/ataupembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning) disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dan jenjang pendidikan.
Sikap
Sesuai dengan karakteristik sikap, maka salah satu alternatif yang dipilih adalah proses afeksi mulai dari menerima, menjalankan,menghargai,menghayati, hingga mengamalkan. Seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang mendorong siswa untuk melakuan aktivitas tersebut.
Pengetahuan
Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Karakteritik aktivititas belajar dalam domain pengetahuan ini memiliki perbedaan dan kesamaan dengan aktivitas belajar dalam domain keterampilan. Untuk memperkuat pendekatan saintifik, tematik terpadu, dan tematik sangat disarankan untuk menerapkan belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong peserta didik menghasilkan karya kreatif dan kontekstual, baik individual maupun kelompok, disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).
Keterampilan
Keterampilan diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Seluruh isi materi (topik dan subtopik) mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus mendorong siswa untuk melakukan proses pengamatan hingga penciptaan. Untuk mewujudkan keterampilan tersebut perlu melakukan pembelajaran yang menerapkan modus belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery / inquiry learning) dan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).
Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru bersama siswa baik secara individual maupun kelompok melakukan refleksi untuk mengevaluasi:
Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung;
Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
Melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas, baik tugas individual maupun kelompok; dan
Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.
Standar Proses dijabarkan dari Standar Isi. Standar Proses berisi acuan pelaksanaan proses pembelajaran untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan. Setiap satuan pendidik melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Perencanaan pembelajaran merupakan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk setiap muatan pembelajaran.
Standar Penilaian
Pengertian
Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah, yang diuraikan sebagai berikut:
Penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran. Penilaian otentik dilakukan oleh guru secara berkelanjutan.
Penilaian diri merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik secara reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Penilaian berbasis portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas khususnya pada sikap/perilaku dan keterampilan.
Ulangan merupakan proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik.
Ulangan harian merupakan kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk menilai kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.
Ulangan tengah semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8–9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.
Ulangan akhir semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.
Ujian Tingkat Kompetensi yang selanjutnya disebut UTK merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
Ujian Mutu Tingkat Kompetensi yang selanjutnya disebut UMTK merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UMTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN merupakan kegiatan pengukuran kompetensi tertentu yang dicapai peserta didik dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan, yang dilaksanakan secara nasional.
Ujian Sekolah/Madrasah merupakan kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi di luar kompetensi yang diujikan pada UN, dilakukan oleh satuan pendidikan.
Prinsip dan Pendekatan Penilaian
Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
Objektif, berarti penilaian berbasis pada standardan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai.
Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan.
Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya.
Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak.
Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya.
Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.
Pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian acuan kriteria (PAK). PAK merupakan penilaian pencapaian kompetensi yang didasarkan pada kriteria ketuntasan minimal (KKM). KKM merupakan kriteria ketuntasan belajar minimal yang ditentukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan karakteristik Kompetensi Dasar yang akan dicapai, daya dukung, dan karakteristik peserta didik.
Ruang Lingkup, Teknik, dan Instrumen Penilaian
Ruang Lingkup Penilaian
Penilaian hasil belajar peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah ditetapkan. Cakupan penilaian merujuk pada ruang lingkup materi, kompetensi mata pelajaran/kompetensi muatan/kompetensi program, dan proses.
Teknik dan Instrumen Penilaian
Teknik dan instrumen yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut:
Penilaian kompetensi sikap
Pendidik melakukan penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat” (peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal. Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.
Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati.
Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri.
Penilaian antar peserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik.
Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.
Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Pendidik menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan.
Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.
Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan.
Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau proyek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
Penilaian Kompetensi Keterampilan
Pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, proyek, dan penilaian portofolio. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik.
Tes praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktivitas atau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi.
Proyek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks) yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu. Penilaian proyek biasanya dilakukan oleh pendidik untuk tiap akhir bab atau tema pelajaran.
Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya
Penilaian kurikulum harus mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara utuh dan proposional, sesuai dengan kompetensi inti yang telah ditentukan. Penilaian aspek pengetahuan, dapat dilakukan dengan ujian tulis, lisan, dan daftar isian pertanyaan. Penilaian aspek keterampilan dapat dilakukan dengan ujian praktek, proyek dan portofolio. Sedangkan penilaian sikap, dapat dilakukan dengan penilaian diri, penilaian teman sejawat, serta jurnal pendidik
Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah daerah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota.
Pemerintah bertanggungjawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum.
Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara nasional.
Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait.
Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait.
Strategi Implementasi Kurikulum terdiri atas:
Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu:
Juli 2013: Kelas I, IV, VII, dan X
Juli 2014: Kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI
Juli 2015: kelas I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, dan XII
Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dari tahun 2013 – 2015
Pengembangan buku siswa dan buku pegangan guru dari tahun 2012 – 2014
Pengembangan manajemen, kepemimpinan, sistem administrasi, dan pengembangan budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA dan SMK, dimulai dari bulan Januari – Desember 2013
Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 – 2016
Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan/PTK. Pelatihan PTK adalah bagian dari pengembangan kurikulum. Pelatihan PTK disesuaikan dengan strategi implementasi yaitu: Tahun pertama 2013 sampai tahun 2015 ketika kurikulum sudah dinyatakan sepenuhnya diimplementasikan.
Pengembangan Buku Siswa dan Pedoman Guru. Implementasi kurikulum dilengkapi dengan buku siswa dan pedoman guru yang disediakan oleh Pemerintah. Strategi ini memberikan jaminan terhadap kualitas isi/bahan ajar dan penyajian buku serta bahan bagi pelatihan guru dalam keterampilan melakukan pembelajaran dan penilaian pada proses serta hasil belajar peserta didik.
Pada bulan Juli 2013 yaitu pada awal implementasi Kurikulum 2013 buku sudah dimiliki oleh setiap peserta didik dan guru. Ketersediaan buku adalah untuk meringankan beban orangtua karena orangtua tidak perlu membeli buku baru.
Evaluasi Kurikulum
Pelaksanaan evaluasi implementasi kurikulum dilaksanakan sebagai berikut:
Jenis Evaluasi : Formatif sampai tahun Belajar 2015-2016
Sumatif : Tahun Belajar 2016 secara menyeluruh untuk
menentukan kelayakan ide, dokumen, dan implementasi kurikulum.
Evaluasi pelaksanaan kurikulum diselenggarakan dengan tujuan untuk mengidentifikasi masalah pelaksanaan kurikulum dan membantu kepala sekolah dan guru menyelesaikan masalah tersebut. Evaluasi dilakukan pada setiap satuan pendidikan dan dilaksanakan pada satuan pendidikan di wilayah kota/kabupaten secara rutin dan bergiliran.
Evaluasi dilakukan di akhir tahun ke II dan ke V SD, tahun ke VIII SMP dan tahun ke XI SMA/SMK. Hasil dari evaluasi digunakan untuk memperbaiki kelemahan hasil belajar peserta didik di kelas/tahun berikutnya.
Evaluasi akhir tahun ke VI SD, tahun ke IX SMP, tahun ke XII SMA/SMK dilakukan untuk menguji efektivitas kurikulum dalam mencapai Standar Kemampuan Lulusan (SKL).
Adapun faktor-faktor yang menentukan dan mendukung keberhasilan implementasi kurikulum dalam meningkatkan pembelajaran untuk menghasilkan peserta didik sebagai lulusan yang kompeten sebagai berikut:
kesesuaian kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) dengan kurikulum dan buku teks,
ketersediaan buku sebagai sumber belajar yang mengintegrasikan standar pembentuk kurikulum,
penguatan peran pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan, serta
penguatan manajemen dan budaya sekolah (Hidayat S. 2013).
Pengembangan Kurikulum 2013
Perlunya Perubahan dan Pengembangan Kurikulum 2013
Perlunya perubahan kurikulum juga karena adanya beberapa kelemahan yang ditemukan dalam KTSP 2006 sebagai berikut (diadaptasi dari materi sosialisai Kurikulum 2013:
Isi dan pesan-pesan kurikulum masih terlalu padat, karena banyaknya mata pelajaran, materi dan kesukaran nya melampaui usia anak.
Kurikulum belum mengembangkan kompetensi secara utuh sesuai dengan visi, misi dan tujuan pendidikan nasional.
Kompetensi yang dikembangkan lebih didominasi oleh aspek pengetahuan, belum sepenuhnya menggambarkan pribadi peserta didik (pengetahuan, keterampilan, dan sikap).
Berbagai kompetensi yang diperlukan sesuai dengan perkembangan masyarakat, seperti pendidikan karekter, kesadaran lingkungan, pendekatan dan metode pembelajatan konstruktif , keseimbangan soft skill dan hard skill, serta jiwa kewirausahaan, belum terakomodasi di dalam kurikulum.
Kurikulum belum peka terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
Standar proses pembelaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelejaran yang berpusat pada guru.
Penilaian belum menggunakan penilaian berbasis kompetensi, serta belum tegas memberikan layanan remidiasi dan penilaian secara berkala (Mulyasa, 2013).
Perubahan dan pengembangan kurikulum juga diperlukan karena adanya kesenjangan yang sedang berlaku saat itu (KTSP), yakni sebagai berikut (Mulyasa, 2013):
KONDISI SAAT INI
KONSEP IDEAL
KOMPETENSI LULUSAN
KOMPETENSI LULUSAN
1
Belum sepenuhnya menanamkan pendidikan karekter
1
Berkarakter mulia
2
Belum menghasilkan keterampilan yang dibutuhkan
2
Keterampilan yang relevan
3
Pengetahuan-pengetahuan lepas
3
Pengetahuan-pengetahuan terkait
MATERI PEMBELAJARAN
MATERI PEMBELAJARAN
1
Belum relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan
1
Relevan dengan materi yang dibutuhkan
2
Beban belajar terlalu berat
2
Materi esensial
3
Terlalu luas, kurang mendalam
3
Sesuai dengan tingkat perkembangan anak
PROSES PEMBELAJARAN
PROSES PEMBELAJARAN
1
Berpusat pada guru
1
Berpusat pada peserta didik
2
Proses pembelajaran berorientasi pada buku teks
2
Sifat pembelajaran yang kontekstual
3
Buku teks hanya memuat materi bahasan
3
Buku teks memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan
PENILAIAN
PENILAIAN
1
Menekankan aspek kognitif
1
Menekankan sifat kognitif afektif, psikomotor serta prorporsional
2
Tes menjadi cara yang dominan
2
Penilaian tes pada portofolio saling melengkapi
PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
1
Memenuhi kompetensi profesi saja
1
Memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal
2
Fokus pada ukuran kinerja PTK
2
Motivasi mengajar
PENGELOLAAN KURIKULUM
PENGELOLAAN KURIKULUM
1
Satuam pendidikan mempunya pembebasan dalam mengelola kurikulum
1
Pemerintah pusat dan daerah mempunyai kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum ditingkat satuan pendidikan
2
Masih terdapat kecenderungan satuan pendidikan menyusun kurikulum tanpa mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah
2
Satuan pendidikan mampu menyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebiutuhan peserta didik, dan potensi daerah
3
Pemerintah hanya menyiapkan sampai standar isi mata pelajaran
3
Pemerintah manyiapkan semua komponen kurikulum sampai buku teks dan pedoman
Berdasarkan kondisi tersebut, dilakukan beberapa penyempurnaan pola pikir sebagai berikut:
Penyempurnaan pola pokir perumusan kurikulum (Mulyasa, 2013):
No.
KBK 2004
KTSP 2006
KURIKULUM 2013
1
Standar kompetensi lulusan diturunkan dari standar isi
Standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan
Standar isi dirumuskan berdasarkan tujuan mata pelajaran (SKL) yang dirinci menjadi standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
Standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran
Pemisahan antara mata pelajaran pembentuk sikap , pembentukan keterampilan, dan pembentuk pengetahuan
Semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan
Kompetensi diturunkan dari mata pelajaran
Mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai
Mata pelajaran lepas satu dengan yang lain, seperti sekumpulan mata pelajaran terpisah
Semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti (tiap kelas)
Perbandingan kurikulum 2013 dengan KTSP 2006 (Mulyasa, 2013)
Perbandingan Tata Kelola Pelaksanaan Kurikulum
Elemen
Ukuran Tata Kelola
KTSP 2006
Kurikulum 2013
Guru
Kewenangan
Hampir mutlak
Terbatas
Kompetensi
Harus tinggi
Sebaiknya tinggi. Bagi yang rendah masih terbantu dengan adanya buku.
Bebasan
Berat
Ringan
Efektiftas waktu untuk kegiatan pembelajaran
Rendah (banyak waktu untuk persiapan)
Tinggi
Buku
Peran Penerbit
Besar
Kecil
Variasi materi dan proses
Tinggi
Rendah
Variasi harga/ bebas siswa
Tinggi
Rendah
Siswa
Hasil pembelajaran
Tergantung sepenuhnya pada guru
Tidak sepenuhnya tergantung guru, tetapi juga buku yang disediakan pemerintah.
Pemantauan
Titik penyimpangan
Banyak
Sedikit
Besar penyimpangan
Tinggi
Rendah
Pengawasan
Sulit, hampir tidak mungkin
Mudah
Perbandingan tata kelola pelaksanaan kurikulum (Mulyasa, 2013)
Proses
Peran
KTSP 2006
Kurikulum 2013
Penyusunan silabus
Guru
Hampir mutlak (dibatasi hanya oleh SK-KD)
Pengembangan dari yang sudah disiapkan
Pemerintah
Hanya sampai SK-KD
Mutlak
Pemerintah daerah
Supervisi penyusunan
Supervisi pelaksanaan
Penyediaan buku
Penerbit
Kuat
Lemah
Guru
Hampir mutlak
Kecil, untuk buku pengayaan
Pemerintah
Kecil untuk kelayakan disekolah
Mutlak untuk buku teks, kecil untuk buku pengayaan
Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran
Guru
Hampir mutlak
Kecil, untuk pengembangan dari yang ada pada pada buku teks
Pemerintah daerah
Supervisi penyusunan dan pemantauan
Supervisi pelaksanaan dan pemantauan
Pelaksanaan pembelajaran
Guru
Mutlak
Hampir mutlak
Pemerintah daerah
Pemantauan kesesuan dengan rencana (variatif)
Pemantauan kesesuaian dengan buku teks (terkendali)
Penjaminan mutu
Pemerintah
Sulit, karena variasi terlalu besar
Mudah, karena mengarah pada pedoman yang sama
BAB III
PROSEDUR PENGEMBANGAN KURIKULUM
Dalam dunia pendidikan rancangan yang dimaksud adalah kurikulum. Hal ini karena, dalam kurikulum semua konsep dan strategi belajar mengajar di sekolah dapat dilaksanakan melalui pedoman yang jelas. pengembangan kurikulum harus efektif dan efisien, jadi pengembang kurikulum harus memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum, baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus. Kurikulum merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan. jadi, KURIKULUM ialah program Pendidikan dan bukan program pengajaran, sehingga program itu di rencanakan dan di rancang sebagai bahan ajar dan pengalaman belajar (Prof. Drs. H. Darkir). Oleh sebab itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah yang disebut dengan prinsip relevansi.
Sehingga kurikulum yang baik harus selalu berubah dari waktu kewaktu sesuai perubahan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan serta canggihnya teknologi. Namun tidak meninggalkan prosedur serta langkah-langkah dan prinsip-prinsip dalam pengembangan pendidikan yang telah berlaku.
Pengertian Prosedur Pengembagan Kurikulum
Menurut Muhammad Ali, Prosedur adalah tata cara kerja atau cara menjalankan suatu pekerjaan. Amin Widjaja, Prosedur adalah sekumpulan bagian yang saling berkaitan. Kamaruddin, Prosedur pada dasarnya adalah suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang berhubungan satu sama lainnya yang berkaitan melaksanakan dan memudahkan kegiatan utama dari suatu organisasi. Sedangkan pengertian prosedur menurut Ismail masya, Prosedur adalah suatu rangkaian tugas-tugas yang saling berhubungan yang merupakan urutan-urutan menurut waktu dan tata cara tertentu untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang dilaksanakan berulang-ulang.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan yang dimaksud dengan prosedur adalah suatu tata cara kerja atau kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan urutan waktu dan memiliki pola kerja yang tetap yang telah ditentukan.
Pengembangan berasal dari kata dasar kembang yang berarti menjadi bertambah sempurna. Kemudian mendapat imbuan pe- dan –an sehingga menjadi pengembangan yang artinya proses, cara atau perbuatan mengembangkan. Jadi pengembangan di sini adalah usaha sadar yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan agar lebih sempurna dari pada sebelumnya.
Kurikulum menurut Syaifruddin Nurdin adalah aktivitas apa saja yang dilakukan sekolah dalam rangka mempengaruhi anak dalam belajar untuk mencapai suatu tujuan, termasuk didalamnya kegiatan belajar mengajar, mengatur strategi dalam proses belajar mengajar, cara mengevaluasi program pengembangan pengajaran, dan sebagainya. Abdullah Idi, Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan isi bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Sedangkan menurut Al-Rosyidin dan Nizar, kurikulum adalah landasan yang digunakan pendidik untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan pendidikan yang diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental.
Berdasarkan definisi-definisi diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prosedur pengembangan kurikulum adalah suatu susunan perencanaan kegiatan belajar yang saling berhubungan yang ditujukan untuk membawa siswa kearah perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai sejauh mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa.
Kurikulum sebagai suatu kegiatan (proses) ini kadang disebut juga: real curriculum (kurikulum sesungguhnya), actual curriculum (kurikulum yang nyata), functional curriculum (kurikulum yang terlaksana), dan operational curriculum (kurikulum yang dilaksanakan). Dengan mengutif dari Cohen, Deer, Harrison, dan Josephson, (1982), dan Goodlad (1978) kurikulum dapat juga berupa kuriklum realita atau sebagai eksperiensial. Istilah realita dipergunakan karena kurikulum dalam dimensi ini adalah kurikulum yang sesungguhnya tertjadi di lapangan. Sedangkan eksperiensial dipergunakan karena kurikulum ini merupakan sesuatu yang dialami siswa.
Di kalangan pakar kurikulum terjadi perbedaan pendapat mengenai apakah dimensi ini termasuk kurikulum atau bidang yang berdiri sendiri. Bagi Mcdonal (1965) kurikulum (curriculum) hanyalah sebagai: a plane for action, that is, a plane that guides instruction”. Jadi, kurikulum hanya dipandang sebagai sebuah rencana untuk tindakan pembelajaran, bukan sesuatu yang dialami secara nyata oleh siswa. Beaucham (1981:7), sebagaimana dikemukakan di atas juga memandang kurikulum sebagai sebuah dokumen tertulis atau tidak tertulis. Dalam hal ini ia memandang kurikulum hanya dalam bentuk ide dan rencana tertulis saja. Dalam kata lain kedua pakar inimemandang proses atau kegiatan pelaksanaan kurikulum ini tidak disebutnya sebagai kurikulum. Sementara itu, Johnson (1967) memandang situasi nyata di dalam kelas dipandang sebagai implementasi dari rencana pembelajaran, bukan rencana kurikulum. Kurikulum hanya dalam bentuk pencapaian tujuan belajar (Zais, 1976:9). Di pihak lain, Johnson juga memandang bahwa kurikulum adalah merupakan hasil (output) dari sistem pengembangan kurikulum dan menjadi bahan masukan (input) bagi system pembelajaran. Demikian ia juga tidak menyatakan proses sebagai sebuah kurikulum.
Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan tentang konsep kurikulum tersebut, namun dalam prakteknya kurikulum sebagai proses adalah merupakan implementasi kurikulum. Fullan (1982), dan Leithwood (1982) adalah di Konsep Kurikulum antara para pakar kurikulum yang memandang bahwa implementasi adalah sebagai sebuah kurikulum dalam dimensi proses. Sebagaimana definisi yang dikemukakan oleh Fullan (1982:54) bahwa implementasi adalah: “the process of putting into practice an idea, program, or set of activities new to the people attempting or expected to change”.
Sementara itu, istilah implementasi kurikulum ini sering pula disamakan dengan pembelajaran (instruction). Dalam bahasa lain, bahwa sebuah kurikulum yang ada pada ide atau gagasan yang kemudian dituangkan dalam bentuk rancangan tertulis kelanjutannya akan diimplementasikan. Dengan demikian implementasi (proses) adalah merupakan pelaksanaan kurikulum ide dan kurikulum tertulis.
Meskipun pada dasarnya atau idealnya kurikulum dalam dimensi proses ini merupakan implementasi dari apa yang telah digagas dan dituangkan dalam program tertulis, namun bukan berarti kurikulum dalam dimensi proses ini semata mengimplementasikan apa yang digagas dan telah diprogramkan secara tertulis, sebaliknya adakalanya dalam proses ini dapat muncul hal-hal baru, merubah dan meniadakan apa yang telah digagas dan diprogramkan secara tertulis tersebut, karena ada situasi dan kondisi yang mengharuskannya untuk terjadi dan dilakukan perubahan.
Prinsip Pengembangan Kurikulum
Prinsip Pengembangan Kurikulum dibagi menjadi dua bagian yaitu prinsip umum dan prinsip Khusus.
Prinsip Umum Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum menggunakan beberapa prinsip yang dapat memenuhi harapan siswa, diantaranya:
Prinsip berorientasi pada tujuan/kompetensi, Yaitu arah bagi pengembangan komponen-komponen lainnya yang memiliki tujuan lebih spesifik dan operasional. Selain itu, tujuan itu juga harus komprehensif meliputi aspek kognitif, afektif, atau psikomotorik.
Prinsip kontinuitas, Yaitu kesinambungan bahan/materi kurikulum antara jenis dan jenjang program pendidikan. Selain itu, materinya harus memiliki hubungan hierarkis fungsional. Termasuk ruang lingkup dan urutan atau sistematis.
Prinsip fleksibilitas, Yaitu ruang gerak dalam mengambil keputusan tentang kegiatan yang dilaksanakan pelaksana kurikulum.
Prinsip integritas, Yaitu keterpaduan, pengembangan kurikulum harus dilakukan dengan menggunakan prinsip keterpaduan. Supaya membentuk manusia yang utuh, pribadi yang integrated. Selain itu, kurikulum harus dapat mengembangkan berbagai keterampilan hidup (life skills) yang meliputi:
keterampilan personal (personal skill).
keterampilan berpikir rasional (thinking skill).
keterampian sosial (social skill).
keterampilan akademik (academic skill).
keterampilan vokasional (vocational skill).
Prinsip Khusus pengembangan Komponen Kurikulum
Prinsip yang berkenaan dengan komponen tujuan, materi/isi, metode dan media, serta komponen evaluasi. Menurut Sukmadinata (2000; 152-155) prinsip pengembangan kurikulum khusus yang berkaitan dengan pengembangan komponen-komponen kurikulum.
Prinsip yang Berkenaan dengan Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan mencakup tujuan jangka panjang, jengka menengah, jangka pendek (khusus). Sumber perumusan tujuan Pendidikan:
Ketentuan dan kebijakan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai tujuan dan strategi pembangunan termasuk di dalamnya pendidikan.
Survei mengenai persepsi orang tua /masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.
Survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu yang dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa.
Survei tentang manpower (sumber daya manusia/tenaga kerja.
Pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama.
Penelitian.
Prinsip yang Berkenaan dengan Pemilihan Isi Pendidikan
Beberapa pertimbangan dalam menentukan isi pendidikan/kurikulum adalah:
Perlu penjabaran tujuan pendidikan/pengajaran dalam perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalaman belajar.
Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan
Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis. Ketiga ranah belajar, yaitu kognitif, sikap, dan keterampilan, diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar.
Prinsip Berkenaan dengan Pemilihan Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar hendaknya mmemperhatikan hal-hal berikut:
Apakah metode/teknik tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor ?
Apakah metode/teknik belajar-mengajar yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran ?
Apakah metode/teknik tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa ?
Apakah metode/teknik tersebut dapat memberikan urutan kegiatan yang betingkat-tingkat ?
Apakah metode/teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa atau mengaktifkan guru atau keduanya ?
Apakah metode/teknik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru ?
Apakah metode/teknik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan dirumah, juga mendorong penggunaan sumber belajar yang ada di rumah dan masyarakat ?
Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Beberapa prinsip yang menjadi pegangan dalam pemilihan media atau alat bantu pembelajaran:
Alat/media apa yang diperlukan ? apakah semuanya sudah tersedia ? bila alat tersebut tidak ada, apakah ada penggantinya ?
Kalau ada yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana membuatnya, siapa yang membuat, berapa biayanya, serta berapa lama waktu pembuatannya ?;
Bagaimana pengorganisasianalat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul atau paket belajar ?
Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar ?.
Prinsip yang Berkenaan dengan Penilaian
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam fase perencanaan penilaian adalah :
Bagaimakah karakteristik kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan di tes?
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan tes?
Apakah tes tersebut berbentuk uraian atau pilihan?
Berapa banyak butir tes yang perlu disusun?
Apakah tes tersebut diadministrasikan oleh guru atau siswa?;
Beberapa prinsip penilaian yang perlu diperhatikan adalah:
Norma penilaian apa yang akan digunakan dalam pengelolaan hasil tes?
Apakah digunakan formula guessing?
Bagaimana pengubahan skor mentah kedalam skor masak?
Standar apa yang akan digunakan?
Untuk apakah hasil tes digunakan?.
Terdapat beberapa langkah dalam pelaksanaan pengembangan kurikulum, diantaranya :
analisis dan diagnosis kebutuhan;
perumusan tujuan;
pemilihan dan pengorganisasian materi;
pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar; serta pengembangan alat evaluasi.
Menurut Benyamin S. Bloom dengan Taxonomy of Educational Objectives membagi tujuan menjadi tiga ranah/domain yaitu, kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam Handbook for Evaluating and Selecting Curriculum Materials, M. D. Gall (1981; 18-25) mengemukakan sembilan tahap dalam pengembangan bahan kurikulum, yaitu identifikasi kebutuhan, merumuskan misi kurikulum, menentukan anggaran biaya, membentuk tim, mendapatkan susunan bahan, menganalisis bahan, menilai bahan, membuat kebutuhan adopsi, serta menyebarkan, mempergunakan, dan memonitor penggunaan bahan.
Menurut Mc. Neil (1977: 134) mengungkapkan ada dua hal yang perlu mendapatkan jawaban dari penilaian kurikulum, yaitu:
apakah kegiatan-kegiatan yang dikembangkan dan diorganisasikan dapat memungkinkan tercapainya tujuan pendidikan yang di cita-citakan? ;
apakah kurikulum yang telah dikembangkan itu dapat diperbaiki dan bagaimana cara memperbaikinya?
Evaluasi kurikulum dapat dilakukan terhadap komponen-komponen kurikulum itu sendiri, terhadap implementasi kurikulum dan terhadap hasil yang dicapai.
Tahapan Pengembangan Kurikulum Menurut Para Ahli
Ada beberapa para Ahli yang merumuskan tahapan-tahapan pengembangan kurikulum, sebagai berikut:
Model administratif
Model administratif adalah model tertua yang pernah digunakan. Pengembangan dengan model adminisratif dilakukan oleh administrator pendidikan yang membentuk suatu tim pengarahan pengembangan kurikulum.
Model administratif sering pula disebut sebagai model garis. Sehingga pengembangan kurikulum diarahkan dari penjabat pendidikan yang berada di atas. Kemudian membentuk tim pengarahan yang terdiri dari pengawas, kepala sekolah dan pengajar. Tim pengarahan memiliki ugas untuk merencanakan, memberikan pengarahan, merumuskan falsafah dan tujuan umum pendidikan.
Selanjutnya, tim pengarahan membentuk kelompok kerja untuk menyusun tujuan pendidikan, rencana pengajaran, dan kegiatan pembelajaran. Hasil kerja kelompok tersebut direvisi oleh tim pengarah dan dilakukan uji coba. Kegiatan uji coba bertujuan untuk melihat tingkat efektifitas dan kelayakannya. Tim pengarah menelaah dan mengevaluasi uji coba rancangan kurikulum kemudian memutuskan pelaksanaannya. Pengembangan kurikulum model administratif tersebut dapat dilaksanakan pada negara yang dengan sistem karena model ini dari pusat ke bawah . Kekurangan model ini kurikulum biasanya bersifat seragam secara nasional sehingga tidak disesuaikan dengan kebutuhan tiap-tiap daerah.
Dalam pelaksanaan kurikulum tersebut, dilakukan kegiatan monitoring, pengamatan, pengawasan, dan bimbingan yang kemudian dilakukan pula evaluasi yang hasilnya di gunakan untuk umpan balik bagi instansi pendidikan tingkat pusat, daerah, dan sekolah. Dalam pelaksanaannya perlu adanya pengawasan. Kekurangan model ini dapat dijadikan pertimbangan dalam memilih model pengembangan kurikulm karena tuntutan masing-masing daerah berbeda-beda.
Menurut Arich Lewy
Menurut Arich Lewy (1977) proses pengembangan kurikulum dilaksanakan melalui beberapa tahapan sebagaimana yang dikutip dalam buku dasar-dasar pengembangan kurikulum karya Burhan Nurgiyanto terdiri dari penentuan tujuan umum, perencanaan, uji coba dan revisi, uji lapangan, pelaksanaan kurikulum dan pengawasan mutu kurikulum.
Penjelasan dari enam tahap pengembangan menurut Arich Lewy, tahap pertama yang dilakukan dalam proses pengembangan kurikulum adalah merumuskan tujuan kurikulum secara umum. Tujuan kurikulum tersebut meliputi nilai dan kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mengikuti pelaksanaan kurikulum. Dalam merumuskan tujuan ini, para pengembang kurikulum bekerja sama dengan para ahli disiplin ilmu termasuk psikolog, sosiolog, antropolog, dan pakar-pakar ilmu lainnya yang relevan. Pakar-pakar ini dianggap mampu memberikan kontribusi pemikirannya untuk merumuskan tujuan umum kurikulum.
Berdasarkan tahaapan pertama, selanjutnya pengembang kurikulum menyusun perencanaan kurikulum, mulai dari perencanaan umum (silabus) sampai dengan perencanaan khusus (RPP) dalam berbagai kegiatan (intrakulikuler, ekstrakulikuler maupun kokulikuler) sesuai dengan organisasi kurikulum yang diinginkan. Perencanaan meliputi bahan/materi pembelajaran, strategi penyampaian, sistem penilaian, sarana prasarana, biaya serta cara-cara penyampaian kepada guru-guru agar mereka dapat menggunakannya. Perencanaan yang sudah disusun kemudian di uji coba. Uji coba bertujuan untuk menguji perancaan kurikulum yang telah disusun sesuai dengan situasi dan kondisi objektif di lapangan. Selain itu uji coba juga dilaksanakan untuk mengetahui kelemahan dari perencaan sehingga dapat diperbaiki. Dalam uji coba ini, pengembang kurikulum melakukan observasi secara langsung di kelas dan meminta pendapat peserta didik mengenai kegiatan pembelajaran dengan kurikulum baru yang telah diikuti. Begitu juga pendapat dari para pakar pendidikan, psikologi, bidang studi, dan lain-lain termasuk kepala sekolah,orang tua, guru.
Hasil uji coba terbatas adalah memperoleh kurikulum yang lebih baik. Berdasarkan kurikulum ini kemudian dilakukan kembali uji lapangan yang lebih luas, yang hampir mirip dengan situasi sebenarnya. Tujuannya untuk menganalisis kondisi pelaksanaan kurikulum agar diperoleh hasil yang lebih memadai. Setelah dilakukan uji lapangan, kemudian dilaksanakan pelatihan untuk kepala sekolah dan guru secara bertahap. Selanjutnya kurikulum dilaksanakan seluruh sekolah di berbagai wilayah dalam suatu negara secara uniform. Kurikulum memiliki sifat dinamis, yaitu mengikuti perubahan dan perkembangan zaman. Apabila kurikulum memiliki kekurangan dan tidak dapat mengikuti perkembangan zaman, maka perlu dilakukan pembaharuan kurikulum.
Model Rogers
Terdapat tahap pengembangan kurikulum dengan model Rogers. tahap pertama yang dilakukan yaitu memilih target yang akan ikut serta dalam kelompok intensif dari sistem pendidikan, selanjutnya guru berpartisipasi dalam pengalaman guru. Pengalaman yang ada dikembangkan pada masing-masing kelas. Dibutuhkan pula partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok. Akan tetapi dalam tahapan model ini tidak semua orang tua ikut serta dalam menyusun kurikulum. Orang tua memiliki peran lebih besar pada saat pelaksanaan kurikulum. Karena dalam proses belajar tidak hanya berlangsung di sekolah tetapi juga di rumah, sehingga orang tua ikut mendampingi dan mengawasi kegiatan belajar siswa di rumah. Orang tua juga dapat turut berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, pertemuan dengan guru dan pelaporan hasil belajar. Dari kegiatan tersebut dapat menjadi umpan balik untuk menyempurnakan kurikulum.18 Proses pengembangan kurikulum dengan model rogers lebih memperhatikan subyek yang berpegaruh dalam pelakasanaan kurikulum.
Menurut Tyler
Menurut Tyler, tahapan pengembangan kurikulum terdiri dari empat tahapan mulai dari menentukan tujuan hingga penilaian. Pertama, menentukan tujuan pengembangan kurikulum, tahapan yang harus dilakukan pertama yaitu menentukan tujuan dari pengembangan kurikulum. Sehingga dapat diketahui arah dan sasaran pencapaian pendidikan. Kedua, menentukan pengalaman belajar siswa. Setelah menentukan tujuan kemudian pada tahap selanjutnya dilakukan penentuan pengalaman belajar (learning experiences). Pengalaman belajar merupakan kegiatan interaksi siswa dengan lingkungan. Pengalaman belajar siswa dapat ditemui dalam proses pembelajaran. Terdapat beberapa prinsip dalam menentukan pengalaman belajar yaitu pengalaman disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, setiap pengalaman harus memuaskan siswa, siswa terlibat dalam perencanaan pengalaman belajar, dan dalam pengalaman belajar siswa memiliki tujuan yang berbeda-beda. Ketiga, pengorganisasian pengalaman belajar. Pengorganisasian ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu secara vertikal dan horizontal. Untuk pengorganisasian secara vertikal menghubungkan pengalaman belajar suatu kajian ilmu yang sama pada tingkatan yang berbeda. Sedangkan secara horizontal menghubungkan pengalaman belajar beberapa bidang pada tingkat yang sama. Keempat, penilaian tujuan belajar sebagai komponen yang dijadikan perhatian utama.
Menurut Beauchamp
Ada lima tahapan dalam mengembangkan suatu kurikulum yang pertama menetapkan lingkup wilayah yang akan di cakup oleh kurikulum tersebut (sekolah, kecamatan, kabupaten, propinsi, Negara). Tahapan lingkup wilayah ini ditentukan oleh pihak yang memiliki wewenang untuk mengambil kebijakan dalam pengembangan kurikulum. Setelah menetapkan lingkup wilayah kemudian menetapkan personalia yaitu pihak yang ikut dalam proses pengembangan kurikulum. Menurut Beauchamp pihak tersebut antara lain, para ahli pendidikan ataupun ahli kurikulum yang berada di tingkat pusat, perguruan tinggi dan sekolah. Selain itu juga para profesional dalam sistem pendidikan serta tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh dalam pendidikan.
Dalam model ini melibatkan para ahli dan tokoh pendidikan yang berpengaruh pada pengembangan kurikulum baik secara langsung maupun tidak. Penetapan ini disesuaikan dengan tingkat dan luas wilayah. Sebagaimana untuk tingkat provinsi dan nasional tidak begitu melibatkan guru. Sebaliknya untuk tingkat dibawahnya seperti kabupaten, kecamatan, dan sekolah keterlibatan guru lebih besar dalam pengembangan kurikulum. Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini berkenaan dengan prosedur yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar serta kegiatan evaluasi, dan dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum. Selanjutnya mengimplementasikan kurikulum dan mengevaluasi.
Menurut Taba
Proses pengembangan kurikulum menurut taba dapat dilakukan dengan lima langkah. Dimulai dengan Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru-guru Didalam unit ini diadakan studi yang seksama tetang hubungan antara teori dan praktik. Perencanaan didasarkan atas teori yang kuat, dan pelaksanaan eksperimen didalam kelas menghasilkan data-data yang untuk menguji landasan teori yang digunakan. Ada 8 langkah dalam kegiatan unit eksperimen menurut Taba yaitu ,Mendiagnosis kebutuhan, merumuskan tujuan-tujuan khusus, memilih isi, mengorganisasi isi, memilih pengalaman belajar, mengorganisasi pengalaman belajar, mengevaluasi, melihat sekuens dan keseimbangan
Selanjutnya menguji unit eksperimen, kegiatan ini dilaksanakan tidak hanya pada kelas ekperimen tetapi di uji juga pada kelas atau tempat lain sehingga dapat diketahui tingkat validitas dan juga dapat memperoleh data untuk penyempurnaan. Data yang diperoleh dari tahapan pengujian kemudian digunakan untuk perbaikan dan penyempurnaan. Selain melakukan revisi atau perbaikan juga diadakan konsolidasi, pada kegiatan ini dilakukan penarikan kesimpulan mengenai hal yang bersifat umum, karena unit eksperimen yang telah digunakan belum tentu valid untuk sekolah yang lain.
Setelah melakukan kegiatan revisi dan konsolidasi, kemudian mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum. Pada tahapan ini dilaksanakan pengkajian oleh ahli kurikulum, tujuannya untuk mengetahui konsep dan landasan yang digunakan seusia atau tidak. Kemudian kurikulum baru diterapkan pada daerah yang lebih luas tidak hanya sekolah yang digunakan untuk eksperimen. Sehingga dengan langkah ini dapat diketahui maslah yang dihadapi, baik yang berkaitan dengan pendidik, fasilitas hingga pembiayaan.
Langkah-Langkah Prosedur Pengembangan Kurikulum
Penyusunan dan pengembangan kurikulum dapat menempuh langkah-langkah:
Perumusan tujuan
Tujuan di rumuskan berdasarkan analisis terhadap berbagai kebutuhan, tuntutan dan harapan. Oleh karena itu tujuan di rumuskan dengan mempertimbangkan faktor-faktor masyarakat, siswa itu sendiri serta ilmu pengetahuan.
Menentukan isi
Isi kurikulum merupakan pengalaman belajar yang direncanakan akan di peroleh siswa selama mengikuti pendidikan. Pengalaman belajar ini dapat berupa mempelajari mata pelajaran, atau jenis-jenis pengalaman belajar lain sesuai dengan bentuk kurikulum itu sendiri.
Memilih kegiatan
Organisasi dapat di rumuskan sesuai dengan tujaun dan pengalaman-pengalaman belajar yang menjadi isi kurikulum, dengan mempertimbangkan bentuk kurikulum yang digunakan.
Merumuskan evaluasi
Evaluasi kurikulum mengacu pada tujuan kurikulum, sebagai di jelaskan di muka. Evaluasi perlu di lakukan untuk memperoleh balikan sebagai dasar dalam melakukan perbaikan, oleh karena itu evaluasi dapat di lakukan secara terus menerus.
Pengaturan mata kuliah dalam tahapan semester sering dikenal sebagaicstruktur kurikulum. Secara teoritis terdapat dua macam pendekatan strukturckurikulum, yaitu model serial dan model parallel. Pendekatan model serial adalah pendekatan yang menyusun mata kuliah berdasarkan logika atau struktur keilmuannya. Pada pendekatan serial ini, mata kuliah disusun dari yang paling dasar (berdasarkan logika keilmuannya) sampai di semester akhir yang merupakan mata kuliah lanjutan (advanced). Setiap mata kuliah saling berhubungan yang ditunjukkan dengan adanya mata kuliah prasyarat. Mata kuliah yang tersaji di semester awal akan menjadi syarat bagi mata kuliah di atasnya.
Adapun pendekatan struktur kurikulum model parallel menyajikan mata kuliah pada setiap semester sesuai dengan tujuan kompetensinya. Struktur parallel ini secara ekstrim sering dijumpai dalam model BLOK di program studi kedokteran. Model Blok adalah struktur kurikulum parallel yang tidak berda sarkan pembelajaran semesteran, tetapi berdasarkan ketercapaian kompetensi di setiap blok, sehingga sering pula disebut sebagai model MODULAR, karena terdiri dari beberapa modul/blok. Tetapi, struktur kurikulum parallel tidak hanya dilaksanakan dengan model Blok, bisa juga dalam bentuk semesteran yaitu dengan mengelompokkan beberapa mata kuliah berdasarkan kompetensi yang sejenis. Sehingga setiap semester akan mengarah pada pencapaian kompe tensi yang serupa dan tuntas pada semester tersebut, tanpa harus menjadi syarat bagi mata kuliah di semester berikutnya. Sebagai penutup dari rangkaian penyusunan kurikulum yang dilakukan oleh setiap program studi, dapat digambarkan dalam diagram di bawah ini. Di dalam gambar tersebut nampak bahwa pada awal pengembangan kurikulum nya, program studi harus menetapkan capaian pembelajaran pendidikannya, yang dikenal dengan profil (peran mahasiswa). Dari peran inilah, capaian pembelajaran di setiap tahap pendidikan dapat diturunkan dengan lebih akun tabel dan reliabel. Maknanya, tidak ada program studi yang terlewat dalam mencapai tujuan pendidikan nasional yang dituangkan dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Ketentuan dari penetapan capaian pembelajaran ini, diatur dalam standar kompetensi lulusan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2014 tentang SN-DIKTI.
Kemudian, langkah berikutnya adalah menetapkan bahan kajian untuk dapat memenuhi ketercapaian dari capaian pembelajaran tersebut. Ketentuan dari penetapan bahan kajian ini, ditetapkan melalui standar isi dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2014. Pola pengembangan yang sesuai dengan peraturan mengenai Standar Nasional Pendidikan Tinggi ini, akan menjamin keterwujudan kurikulum yang akuntabel terhadap KKNI, serta lulusan yang dihasilkan sesuai dengan kualifikasi dari KKNI. .
BAB IV
TESTIMONI PENULIS
Lakaddaro, nama kampung yang saat ini tetap lestari dengan suasananya yang sejuk dan asri, terletak di Kelurahan Ma’rang, Kecamatan Marang, Kabupaten Pangkajenne dan Kepulauan (Pangkep). Keberadaan kampung ini cukup di kenal orang luar daerah, tapi bukan dengan nama Lakaddaro, Melainkan dengan nama padang lampe. Hal itu di karenakan kampungku termasuk penghasil jeruk Bali/Jeruk Padang Lampe yang populer di kalangan masyarakat pekotaan.
Kehidupan masyarakat Lakaddaro umumnya bertani pada musim hujan, menanam palawija seperti jagung, singkong, kacang tanah, dan sayur-sayuran pada musim kemarau serta mengelolah kebun jeruk. Di desa yang sejuk dan Asri inilah saya dilahirkan.
Pada tanggal 13 Juni 2000 saat sore hari aku dilahirkan ke dunia dan di beri nama Ruslan. Saat itu ibuku mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanku, yang dibantu oleh seorang Sanro Pammana (dukun beranak). Tak lama kemudian dilahirkanlah sosok bayi dari perut sang ibu ,bayi itu berjenis kelamin laki-laki, alangkah senangnya ayahku yang sedari tadi memanjatkan doa saat menantikan kelahiran ku. Kemudian tali pusar saya dipotong dengan menggunakan Pisau. Kondisi saat itu memang belum semaju sekarang, walau saat itu tenaga medis sudah ada namun masyarakat di desaku lebih percaya pada Sanro Pammana dari pada tenaga medis, termasuk keluargaku.
Pemberian nama Ruslan memiliki kisah tersendiri. Menurut ayah, pada saat saya dilahirkan , beliau bertemu dengan pak Ruslan yang merupakan seorang polisi yang tangguh dan berwibawa. Ayahku kemudian memberiku nama yang sama dengan orang itu dengan pengharapan setelah saya dewasa nanti memiliki jiwa yang tangguh dan berwibawa.
Ayah saya bernama Abd. Rahman. Beliau lahir pada tanggal 5 Januari 1975 dan merupakan anak ke-empat dari tujuh bersaudara. Ibu saya bernama Wahidah. Beliau lahir pada tanggal 21 mei 1980 dan merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara. Orang tua ayah saya seorang petani biasa, sedangkan orang tua ibu saya juga petani.
Beberapa bulan kemudian memori di otak-ku pun mulai merekam. Ibu ku mengajarkanku cara berbicara dan cara berjalan. Biasanya ia mengajarkanku panggilan sederhana seperti “Ayah/Ibu“ dan mengajariku cara berjalan walaupunaku saat itu masih merangkak . Kasih sayang dan ketulusannya masih kuingat sampai saat ini.
Saya memiliki satu saudara kandung. Randi yang akrab ku sapa dengan nama Kak Randi, dia merupakan kakak saya yang lahir satu tahun sebelumku, dia memiliki perwatakan yang baik hati dan paras yang menawan ,sehingga semua orang menyukainya. Dia juga memiliki kreativitas yang unggul di banding dengan sebayanya.Hal itu di buktikan pada saat usianya menginjak 4 tahun, dia sudah memiliki keterampilan membuat senjata mainan dari bambu, bendi-bendi(mainan sederhana yang memiliki satu roda), serta dapat membuat beraneka macam mainan yang membuatku senang.
Saat saya berusia 3 tahun, Kak Randi Meninggal dunia. Selang 2 tahun kemudian aku memiliki teman bermain baru di rumah yaitu adikku ,ia dilahirkan pada tanggal 16 Februari 2005. Biasanya kami suka bermain bersama, menonton film, bermain bola , berenang bahkan pada suatu saat kami pernah bertengkar karena berebut mainan.
Aku memulai pendidikan formal pertamaku pada tahun 2006 dan saat itu aku memilih untuk bersekolah di SDN 19 Gellenge. Sekolah itu adalah sekolah negeri favorit di daerahku, dan merupakan lembaga pendidikan yang sudah lama berdiri, bahkan ayah dan ibuku merupakan lulusan dari sekolah ini, mungkin itu adalah alasan aku bersekolah disana. Selain jaraknya yang dekat dengan kediamanku, jalan yang di lewati untuk sampai ke sekoalah cukup baik. SDN 19 Gellenge ini tidak memiliki fasilitas yang lengkap seperti lab komputer ruang musik dan lainnya, walaupun demikian sekolah ini dapat mencetak Siswa/i yang berprestasi.
Saat itu aku memulai pendidikan formal pertamaku pada kelas 1 SD. Selama belajar di kelas 1 aku mencoba beradaptasi dengan lingkungan dan suasana yang baru. Aku memperoleh peringkat 8. Hal itu cukup membuatku puas, karena saingan belajarku banyak yang telah menempuh TK sedangkan aku langsung menempuh Sekolah dasar (SD) .
Pendidikan ku berlanjut ke kelas 2 SD saat itu aku masuk kelas 2B dan aku masih memiliki teman – teman yang sama hanya wali kelas nya yang berbeda . Pada kelas 2 ini wali kelas ku memiliki pembawaan yang tegas dan disiplin.
Saat kenaikan kelas 3 aku masuk ke kelas 3B dan memiliki wali kelas laki-laki. Sedangkan saat kelas 4 dan 5, Wali kelasku adalah Ibu Sabariah, perwatakanya sama dengan namanya, Beliau selalu sabar dalam menghadapi kami yang mulai bandel mengikuti lingkungan.
Kemudian setelah pembagian rapor aku naik ke kelas 6 SD wali kelas ku bernama Ibu Fatmawati. Dia adalah guru yang berpikir kritis, jika ada permasalahan yang menurutnya tidak benar dia akan memberikan tanggapan.
Kelas 6 adalah tahap terakhir di sekolah yang dulu aku tempati ini. Sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Aku harus belajar dengan giat agar bisa melanjutkan pendidikan.
Berkat Ikhtiar dan doa, saya telah menyelesaikan Pendidikan di tingkat pertama, Sekolah Dasar (SD) dengan mendapat rangking 2 di kelas dan rangking 5 umum. Dan memperoleh nilai Ujian Nasional (UN) yang cukup memuaskan.
Setalah itu saya melanjutkan Pendidikan di MTsN Ma’rang. Hal itu karena madrasah tersebut memiliki fasilitas yang lebih baik dari pada lembaga pendidikan yang ada didekat kediamanku dan Saya berpeluang memiliki relasi yang banyak karena Sekolah tersebut menampung banyak siswa/i. Walaupun jaraknya cukup jauh dari rumahku, tetapi lokasinya cukup strategis.
Awal masuk di MTsN Ma’rang, dimulai dengan masa orientasi peserta didik (MOPD)/MOS (masa orientasi siswa). Selanjunya Aku ditempatkan di kelas 7 D . Di kelas 7 ini aku masih bisa satu kelas dengan teman – temanku yang lama sejak masih bersekolah di SD tetapi aku berbeda kelas dengan teman MOS ku yang sudah kukenal dengan baik. Pada saat kelas 7 saya mendapat peringkat 3
Setelah itu, pada masa kenaikan tingkat saya di tempatkan di kelas 8 D. Di sekolah ini tidak ada sistem acak kelas, sehingga saya tetap bersama dengan teman- temanku di kelas 7. Namun ada sedikit perombakan struktur kelas, baik itu ketua sampai dengan bendahara serta seksi- seksi. Saya saat itu memperoleh jabatan sebagai ketua kelas hingga 2 kali periode di kelas 8. Pada masa ini Saya mendapat Peringkat 2.
Hal yang berkesan pada masa ini, Saya mengikuti Perlombaan Sains, yaitu TSC (Tonasa Sains Champioan) yang di adakan di Tonasa, Kabupaten Pangkep. Kemudian Olimpiade matematika yang di adakan oleh Pesantren Sowatul Ishad. Dari Setiap Perlombaan saya belum pernah mendapatkan juara Namun hal itu merupakan kebanggan tersendiri karena mendapat peran dalam hal mewakili sekolah.
Selanjutnya saya naik kelas, di kelas 9 jabatan saya sebagai ketua kelas masih bertahan hingga lulus nanti. Pada masa ini semangat belajarku menurun tapi masih dapat meraih peringkat ke 2 di kelasku. Di akhir perjuangan saya dalam mene,pu pendidikan tingkat SLTP Saya mendapat nilai UN dan nilai ijazah yang cukup memuaskan.
Setalah itu saya melanjutkan Pendidikan di MAN Pangkep. Madrasah yang berlokasi tepat di samping MTsN Ma’rang. Saya melanjutkan pendidikan disini karena madrasah tersebut adalah madrasah yang satu-satunya menyandang Madrasah negeri di pangkep, dan juga memiliki fasilitas yang tidak sama dengan lembaga lain yaitu dari segi pembelajaran agama yang di pecahkan menjadi beberapa bagian yaitu bahasa arab. Fikih. Akidah akhlak, sejarah keudayaan islam dan Al-Qur’an hadits.
Aku memulai MOS untuk yang kedua kalinya setelah di MTsN Ma’rang di sini saat MOS peraturannya sangat banyak dan untuk siswa laki – laki harus mencukur rambut hingga 1 cm . dan membawa tas karung serta sandal jepit itu membuatku jengkel dan kesal terlebih lagi harus berangkat pagi-pagi sekali yaitu jam 06 : 30, sedangkan saya merupakan orang yang malas bangun pagi.
Setelah MOS berakhir, Aku ditempatkan di kelas X MIA (Matematika Ilmu Alam) 1. Di MAN Pangkep ini ekstrakurikuler yang kupilih adalah Pramuka hal itu karena saya suka dengan tangtangan dan permainan dan juga pramuka merupakan ekstrakulikuler yang sudah kugeluti sejak SD.
Pada masa ini ada perbedaan lingkungan yang mencolok antara pada saat MTs dengan MA. Di MTs saya memiliki teman sekelas yang memiliki perwatakan biasa- biasa saja sedangkan di MA teman saya beragam dari segi perwatakan dan tingkah laku, hal itu dikarenakan mereka memiliki latar belakang yang unik, ada yang memiliki latar belakang anak geng sampai dengan latar belakang anak kutu buku.
Hal menarik yang dimiliki kelas kami yaitu memiliki rasa persatuan yang sangat tinggi dengan motto “Assedingenge”, persatuan tersebut jarang di miliki oleh kelas lain, bahkan diangkatan kami sendiri saya rasa hanya kelasku yang mampu merefleksikan persatuan dari segala hal, baik itu kerja bakti, kerja tugas, dekorasi kelas, acara-acara bahkan dari sisi negatif kerja sama ulangan, bolos dan lainya. Sehingga hal itu di akui oleh wali kelas kami dan guru yang pernah mengajar dikelas kami.
Saat kelas 10 kami di pandu oleh wali kelas yang penyabar, kami memanggilnya mam Narti, dia merupakan guru bahasa inggris. Di kelas saya memangku jabatan sebagai wakil ketua kelas, yang sebelumnya dipangku oleh Hasrialdi yang merupakan teman saya dari daerah sorong, pergantian tersebut di lakukan karena dia kurang merasa mampu dalam hal itu, sedangkan saya di tunjuk oleh teman-teman sebagai orang yang cocok dengan hal itu. Hari demi hari kami lalui yang akhirnya membawa kami naik kelas 11
Di kelas 11 kami tetap menempati kelas MIA 1, hal itu di karenakan di sekolah ini tidak ada sistem acak kelas. Di kelas 11 ini kami memiliki wali kelas perempuan yang tegas dan meiliki jiwa humoris, namanya ibu Hasna yang merupakan guru olahraga. Hal itu menambah bonus tersendiri untuk kelas kami, karana jika ingin olahraga kami terasa bebas dan dalam meminjam alat-alat olahraga kami mudah untuk mengambilnya. Di masa ini saya mendapatkan peringkat ke-4 dan menjabat sebagai ketua kelas dan juga mendapatkan juara 1 KSM (Kompetisi Sains Madrasah) tingkat kabupaten.
Berlanjut di kelas 12 yang merupakan puncak dari kisah putih abu-abu, dimana akan mendapatkan dilema antara kebahagiaan karena telah menyelesaikan level akhir sebagai siswa dengan rasa sedih akan adanya sebuah perpisahan. Di masa ini juga seseorang harus memilih antara melanjutkan pendidikan atau memulai menata kehidupan dengan pekerjaan.
Diwaktu itu saya mulai memutar otak memikirkan langkah kedepanya, apakah lanjut pendidikan atau tidak, yang akhirnya keputusan yang saya ambil melanjutkan pendidikan yang di dukung penuh oleh keluarga. Permasalahan tersebut tidak berhenti sampai di situ, permasalahan baru muncul, dimana ketika melanjutkan pendidikan tentu harus memilih jurusan yang tepat dengan potensi diri, sedang saat itu saya masih belum mampu mengetahui secara pasti di mana potensiku serta memiliki pegetahuan yang minim soal hal-hal yang berkaitan dengan universitas. Persoalan tersebut akhirnya berhenti karena mendapat pencerahan dan penilaian dari seorang guru Fisika yang menganggap aku mampu dan mempunyai potensi yang cocok dalam hal mengajar, terutama mengenai fisika. Akhirnya saya memilih jalan tersebut yang mengantarkan saya kesalah satu universitas negeri di daerah makassar yaitu UIN Alauddin Makassar.
Kemudian tibalah hari dimana saya telah menyelesaikan satu jenjang pendidikan di MAN Pangkep, Suatu kebanggan bisa lulus di Man Pangkep yang merupakan Madrasah pertama dan sekaligus Madrasah yang mendapat gelar Negeri. Namun rasanya, baru kemarin kami berkenalan dengan teman dan sekarang kami akan berpisah menuju jalan masing-masing. masa-masa Pra MOS masih segar di ingatanku. Rasa senang akan kelulusan tentu mengisi pikiran kami, Tapi rasa pilu masih menyelimutinya. Rasa itu terus nampak hingga meneteskan air mata karena perpisahan.
Beberapa hari kemudian saya mulai merencanakan kesuksesan kedepanya dengan menulisnya di selembar kertas bahwa saya akan sukses pada umur 25 tahun, dimana saya akan berdikari dengan kaki sendiri, mendapatkan penghasilan yang mencukupi yang tentunya halal, membina rumah tangga dan membahagiakan kedua orang tua. Hal itu kulakukan karena saran dari salah satu guru favoritku yang mengajar di MAN Pangkep, dia pernah mengatakan jika kamu ingin menjadi orang sukses maka rencanakanlah dari sekarang, dan bermakrifatlah untuk menjadi apa nantinya, agar langkahmu yang tidak berhubungan dengan rencanamu kedepanya, dapat kamu pilah dengan baik.
Rencana akan dimulai, saya akan mulai Mandiri mengarungi kota Makassar untuk pertama kalinya, kota yang dipenuhi dengan kendaraan dan polusi serta orang-orang yang kami anggap mapan dalam ilmu pengetahuan.
saya menemukan berbagai teman dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan daerah di luar Sulawesi Selatan hal itu berkesan bagi saya di mana masa perkuliahan ternyata tidak hanya sebagai ajang untuk mencari ilmu dan memperdalam ilmu tapi lebih dari itu, dimana kita dapat menjalin ukhuwah dengan kawan baru dan tukar-menukar pikiran, serta belajar kritis terhadap sesuatu.
Hari pertama kuliah di Jurusan Pendidikan Fisika hingga saat ini saya menemukan berbagai hal, mulai dari Teori dan rumus hingga arti hidup. Di masa ini saya mengikuti beberapa organisasi, diantaranya IPPM (Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa) Pangkep, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), IBPKI (Internasional Black Panther Indonesia), LaPenMI (Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam), LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Al- Jami, dan LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) Al-Uswah.
Motto yang saya pegang hingga saat ini adalah “Totalitaskan Ambisi” yang memiliki makna bahwa segala sesuatu yang ingin di capai, perlu totalitas, sebagaimana pepatah arab yang mengatakan. “Manjadda wajada” (barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan dapat). Arti sederhana dari motto tersebut jika ingin menjadi menggapai sesuatu maka perlu ada pengorbanan secara penuh, jika ingin menjadi juara maka raihlah juara 1, jika ingin menjadi mubaligh maka jadilah mubaligh nomor satu, dalam hal negatif jika ingin menjadi penjahat jadilah bossnya penjahat. Dalam melakukan sesuatu saya selalu menanamkan pada diri bahwa cara mendapatkan hasil itulah yang lebiuh penting dari hasil sendiri, kata- kata tersebut saya dapat dari buku Madilog karya Tan Malaka sang bapak republik Indonesia
Perkenalkan nama saya Nur Aeni Mahasiswa pendidikan fisika Universitas Islam Alauddin Makassar semester IV. Saya lahir di Samarinda pada tanggal 2 oktober 2000. Saya anak pertama dari dua bersaudara, Ayah saya bernama Abd Hamid dan ibu saya bernama Siti Hawa mereka adalah segala gala nya bagi saya. Selain itu saya juga mempunyai adik perempuan yang bernama Nahda Amelia, usia nya sudah 12 tahun jarak usia saya dengan adik saya adalah 8 tahun. Jadi selama 8 tahun saya adalah anak kesayangan dan anak satu satunya ayah dan ibu saya. Mengingat 20 tahun kembali, saya dilahirkan di kota samarinda kalimantan timur. Kota itu banyak sekali menyimpan kenangan saya. Sebelum saya masuk sekolah saya sudah bisa membaca, saya masuk SD diumur 6 tahun. Saat itu saya duduk dikelas B dan mempunyai teman baru serta pengalaman baru. Saya masuk di SDN 005 samarinda seberang, tetapi itu hanya bertahan sampai penaikan kelas. Saya pindah sekolah sekaligus pindah rumah pada saat naik dikelas 2 SD. Saya pindah di kota tenggarong, kota yang tidak jauh dari samarinda karena masih sama sama kalimantan timur. Jadi saya pindah ke tenggarong itu karena ayah saya kerja disitu. Saya pindah disekolah SDN 001 loa bukit, tidak heran saya langsung mempunya banyak teman yang baik dan yang seru. Pada saat saya berumur 8 tahun saya memounyai adik perempuan yang cantik dan imut sekali seperti saya, ibu saya melahirkan adik saya pada saat saya berumur 8 tahun. Adik saya diberi nama Nahda Amelia dan sekarang ia sudah masuk di SMP. Setelah saya lulus di SD saya melanjutkan sekolah saya di SMP, saya mendaftar di SMPN 5 loa pari. Di situ saya juga mempunyai banyak teman, dan sangat berkesan. Pada saat kelas 2 SMP saya masuk di lomba olimpiade sains mewakili sekolah saya, kelas 3 SMP saya ikut kembali lomba cerdas cermat mewakili sekah saya dan alhamdulillah saya mendapatkan juara dua. Perpisahan di SMP jug sangat amat berkesan. Setelah lulus SMP saya melanjutkan sekolah saya di SMA, hal yang berat karrna saya terpisah oleh sahabat sahabat saya. Jadi saya mendaftarkan diri saya di SMAN 1 Tenggarong, sekolah yang saya impikan sebelumnya. Alhamdulillah saya lulus di sekoalh itu dengan jalur tes rapor. Banyak teas yang dilaukakan, mulai dari tes akademik, tes urine, dan tes wawancara saya lakukan. Saya masuk dijurusan ipa banyak teman teman baru yang saya dapatkan.
saya menjadi mahasiswa baru dan mengikuti kegiatan mahasiswa baru,saya berkenalan dengan orang-oranf dari berbagai daerah dan ada juga satu kampung saya,disini saya tidak memiliki pegangan dalam ilmu fisika namun saya tetap mempelajari,kemudian saya mendapatkan IPK yang memuasakan,semester 2 saya juga terkesan dengan pratikum pratikum nya saya, setelah pratikum ada namanya laporan nah laporan itu yang paling berkesan di saya. Pratikum biologi pada semester dua sekaligus pratikum fisika dasar dua,setelah semester 3 saya melakulan kegiatan seperti halnya semester sebelumnya dan pada saat semester 4 ternyata tidak ada kegiatan yang saya lakulan karena pendemi dan kampuspun harus daring sehingga untuk melakukan kegiatan dikampus terkendala dan berada dikampung selama pendemi,Setelah saya dikampung saya tetap.melukan kegiatan sama teman saya yaitu melakukan kegiatan amal selama bulan puasa yaitu barbagi takjil dengan teman saya,saya melalukan kegiatan itu setiap tahunnya,setelah melakukan kegiatan itu kamu melanjutkan bukber,setelah bulan puasa selesai saya dan teman saya Melakukan kegiatan lain yaitu jalan-jalan untuk melihat pemandangan dikampus saya,dan setelah pendemi mulai aman saya kembali kemakassar sesampai saya dimakassar saya membersihkan tempat tinggal saya dan melanjutkan perjalanan kebarru untuk melihat keluarga saya,sesampai saya dibarru saya diajak.untuk.liburan dipulau dutungan saya dan teman saya melanjutkan perjalanan ke pulai dutungan dan sesampai di pelabuhan untuk kepulau kami menggunakan kapal untuk sampai dipulau dutungan setelah sampai dipulau dutungan kami membangun tenda karena rencana kami adalah camping dan setelah tenda kami selesai kami mulai memasak dan makan setelah itu kami tidur dan pagi nya kami memasak untuk sarapan dan berenang tidak berlangsung lama kami membersihkan tempat kami camping kemudian kami pulang dan kami menunggu kembali kapal yang akan membawa kami pulang,setelah kapal kami tiba kami kembali ke barru dan melanjutkan perjalanan kemakassar untuk melakukan kegiatan seperti biasanya.
Asmita....
Kata singkat itu adalah namaku. Asmita anak pertama dari 6 bersaudara. Aku lahir tanggal 8 maret 2000 jadi kalau sekarang dihitung hitung umur aku sudah menginjak usia 20 tahun. Aku akan mulai dari hobi saya yaitu menyanyi, mendengar musik, dan belajar hal hal baru. Hobi yang paling seru adalah nyanyi karna dengan bernyanyi saya bisa mengekspresikan. Selain menyanyi aku juga lumayan suka dengan mata kuliah pilhan saya yaitu fisika tentu karena guru SMA aku sangat mendukung aku untuk menekuni mata pelajaran ini. Beliau adalah Ibu Rohani yang selalu memberikan pelajaran, arahan tentang fisika sekaligus pramuka. Beliau sangat sabar menghadapi murid yang lumayan bandel .
Selama SMA saya selalu meraih peringkat kedua di kelas, saya juga aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ekstrakurikuler disekolah. Aku juga sangat suka berorganisasi Pada organisasi intra sekolah (OSIS) saya menjadi sekertaris, sedangkan di organisasi ekstrakurikuler pramuka (sekertaris), remus(ketua tarbiyah), dewan kerja ranting/ DKR, remas (sekertaris), seni( penyanyi), selain organisasi itu aku juga kembali menekuni hobiku yaitu bernyanyi di setiap perwakilan sekolah, perwakilan organisasi dan sebagainya. Hal inilah yang membuat saya selalu sibuk di sekolah dan menjadi orang yang lebih bermanfaat.
Aku murid yang cukup antusias saat belajar terutama fisika karena fisika itu cukup menarik seperti yang aku ucapkan aku suka dengan hal hal baru, dan teman teman disekolah tidak ada yang menyukai pelajaran ini nah hal itulah yang memotivasi saya menyukai pelajaran ini. Aku murid yang cukup pendiam dan tidak pernah berbicara ketika belum di beri kesempatan atau di tunjuk oleh guru karna aku siswa yang sangat pemalu. Selama SMA aku sudah mempersiapkan bahwa nantinya aku akan mengambil prodi Seni budaya karena aku sangat hobi dengan menyanyi namun saya juga sangat penasaran dengan fisika karena smpai hari itu teman teman saya kurang menyukai pelajaran tersebut.
Selama SMA aku mempunyai 3 orang sahabat ada Fakhri, Istikhoma dan A.Sri. a.sri dan fakhri adalah sahabatku di dalam kelas dan istikhoma adalah sahabatku dirumah ruang kelasnya berada disebelah kelasku.
Walaupun terkadang kami berdua sering bersama namun ketika kami di sekolah sangat berbeda kami seakan tidak bersahabat karena masing-masing memiliki sahabat disekolah masing-masing kami berdua duduk dengan sahabat kami disekolah, kelas kami juga berbeda aku dikelas XII IPA 1 duduk sebangku dengan sahabatku yaitu Andi Sri Rahmadani sedangkan istikhoma berada di sebelah kelasku XII IPA 2, namun lama kelamaan ternyata aku lebih dominan untuk bermain dikelas XII IPA 2, karena aku merasa lebih nyaman dikelas itu, Andi Sri juga tak heran dengan hal ini karena teman-teman yang biasa menjadi personilku ketika menyanyi adalah teman-teman dari kelas XII IPA 2.
Hal ini yang membuat aku dan istikhoma menjadi lebih akrab di sekolah. Jadi sahabat-sahabat kamipun terkadang bingung kenapa kami bisa sangat akrab padahal istikhoma tidak pernah sama sekali membahas tentangku kesahabatnya, begitupun aku, jujur saja aku sangat jarang berinteraksi dengan teman-teman dikelasku, aku lebih suka untuk sendiri, jika tidak ada proses belajar-mengajar dikelas selama SMA aku hanya aktif diorganisasi dan menyanyiku hal itulah yang membuatku sangat jarang untuk kembali kekelas untuk bercengkrama dengan teman-teman dikelas.
Sedangkan teman-temanku dikelas jarang yang mengikuti organisasi disekolah karena mereka beranggapan bahwa kita sudah kelas XII buat apa organisasi ?. Tapi aku tetap aktif organisasi karena menurutku organisasi adalah tempat merefresh otak sejenak setelah menghadapi berbagai tugas yang ada disekolah.
Tak jarang tugas tugas ini membuat kepala menjadi sakit , karena itu aku memilih organisasi sebagai alternatif untuk menghilangkan sakit kepala terutama organisasi seni, selain itu pramuka juga dapat menghilangkan stress karena banyaknya kegiatan-kegiatan didalam satu perlombaan yang dilakukan berdasarkan tingkatan masing-masing, yaitu siaga(SD), penggalang(SMP), dan Penegak(SMA).
Sebagai anggota DKR(Dewan Kerja Ranting) biasanya menjadi juri dan mengarahkan jalanya suatu perlombaan, hal inilah yang sejenak bisa membuat kita menjadi lebih bahagia dan tidak stress ketika akan mengikuti ujian akhir. Maka dari itu sebelum ujian berikanlah kesan yang baik dan meminta doa dari teman-teman dan adik-adik pramuka sehingga dapat dimudahkan dalam mengerjakan ujian dan latihan-latihan soal yang diberikan.
Apabila ada teman yang lebih paham kita bisa belajar bersama, karena dipramuka juga banyak hal-hal baru yang bisa menjadi pelajaran berharga selain akademik, misalnya kerjasama, dan jadikan apa yang setiap kita kerjakan menjadi hobi dan nikmati karena pramuka ingin melihat siapa yang ingin meluangkan waktunya untuk pramuka.
Di Pramuka juga kita diajarkan belajar bersama, memasak bersama, membersihkan bersama, memanajemen waktu dengan baik, berpakaian rapi, baju harus seragam dan satu rasa dengan teman-teman walaupun kita benar namun jika ada teman yang diberikan hukuman maka kita harus membantunya dan memberikannya semangat, karena dari situlah kita belajar bagaimana kebersamaan yang sebenarnya.
Tentu hal-hal yang seperti ini yang akan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari selain itu ada juga osis yang tak kala disiplin waktunya dengan pramuka, jika dituntut untuk datang pagi sekitar jam 06:10 wita guna melaksanakan pembagian piket-piket yang sudah disepakati bersama pada saat rapat.
Dimana ada yang membersihkan ada juga yang mendata absen kelas dan absen piket mendata Pembina, siswa yang datang tidak tepat waktu atau terlambat dan tak lupa dengan siswa yang melanggar dengan menggunakan alat hias wajah yang berlebihan dan perhiasan yang berlebihan.
Setelah menyibukkan diri dengan duniawi, selanjutnya aku berlanjut mencari ilmu akhirat sedikit demi sedikit seperti tarbiyah. Dengan tarbiyah aku bisa memperbaiki ibadah sholat dan ngaji yang dulunya pernah bolong-bolong sholatnya, ngajinya juga tidak lancar, sekarang Alhamdulillah bisa melaksanakan sholat tepat waktu dan mengaji sudah mulai lancar.
Namun ketika tryout semakin dekat aku pun menyiapkan diri untuk belajar dan mulai mencari contoh-contoh soal untuk dijadikan sebagai bahan untuk belajar, biasanya contoh soal-soal ini aku dapat dari kakak kelas yang sudah menjadi alumni, perpus dan dari guru yang bersangkutan setelah itu akupun mencoba untuk mengerjakan beberapa soal yang aku tahu. Apabila ada beberapa soal yang sulit atau tidak bisa lagi kuselesaikan maka disekolah akan diberikan penyelesaian dari guru atau teman-teman yang lebih mengerti dengan soal-soal itu, kemudian pas selesai ditulis dipapan kita memberikan umpan balik, misalnya mengenai soal-soal yang tadinya kurang dipahami, supaya bisa dijelaskan lebih rinci oleh teman-teman yang sudah paham. Waktu cepat berlalu ketika mendekati 17 agustus aku ditunjuk untuk menjadi perwakilan penyanyi mewakili sekolahku SMA NEGERI 6 PINRANG, dan Alhamdulillah meraih juara 1, kemudian hadiahnya diserahkan kesekolah.
Senang rasanya bisa mmberikan sedikit kepada sekolah yang menjadi tempat belajarku selama ini bersamaan dengan ini perlombaan antar kelas ini ada beberapa lomba-lomba yang dirangkaikan. Perlombaan itupun diadakan selama kurang lebih seminggu. Setelah , melewati 17 Agustus akhirnya mendekati ujian sekolah, pada ujian yang akan segera dilakukan, ada kegiatan yang masih dilakukan oleh beberapa anggota inti dari organisasi intra sekolah yaitu hari guru dan perpisahan dengan kepsek atau kepala sekolah, itu ditandai dengan kunjungan-kunjungan oleh sekolah-sekolah yang berada di kabupaten pinrang. Aku selaku sekertaris pada organisasi ini. Aku dan teman-teman berencana merayakan hari guru dan perpisahan sekaligus pergantian kepala sekolah kami mempersembahkan beberapa kegiatan yaitu seni grafis sebagai cendramata untuk kepala sekolah dan setiap guru kami berikan sekuntum bunga, menampilakan musikalisasi puisi dan drama musical, setelah itu memberikan sebuah kue coklat sebagai kejutan yang tidak diduga-duga sehingga pada hari itu guru-guru yang diberikan merasa terharu sehingga memeluk kami semua sebagai wujud kasihnya kepada kami kemudian momen ini diabadikan dengan kamera dari salah satu teman di kalangan osis, kemudia setelah acara ini berakhir masing-masing dari kami sebagai anggota osis tentu kami membersihkan lokasi yang bersangkutan agar steril dari sampah setelah semuanya kembali seperti semula kami pulang kerumah masing-masing.
Keeseokan harinya saya dan teman-teman memulai mencari informasi mengenai dunia perkuliahan, karena pada saat itu sudah sangat banyak mahasiswa yang datang kesekolah untuk mneyosialisasikan kampus mereka dimana mereka memberitahukan kami tentang fasilitas-fasilitas yang tersedia dikampus mereka, selain itu untuk informasi yang lebih lanjut mereka menyebarkan brosur kepada siswa-siswi kelas tiga, tujuanya agar para siswa yang tertarik bisa langsung mendaftar dan menghubungi link dan email yang telah tertera pada brosur . brosur ini juga memperlihatkan alur masuk dalam perguruan tinggi.
Hingga akhirnya aku tertarik untuk ikut sekolah kedinasan yaitu badan pusat statistic pada saat tes untuk masuk sekolah kedinasan ini aku harus pergi kekantor pusat statika, yang jaraknya cukup jauh dan tentu sangat macet karena terletak di Jl.H.Bau no. 6 Makassar, soal-soal yang diangkat didalam tes ini berjumlah 100 nomor dan menggunakan sistem minus. Namun karena belum reseki aku gagal pada tes tertulis ini.
Setelah itu aku mencoba untuk mendaftar SBMPTN, lokasinya juga cukup jauh yaitu di Jl.sd Sudirman Makassar namun lagi-lagi aku gagal lagi untuk yang ketiga kalinya, aku diberi saran untuk mendaftar mandiri tapi sudah tidak berminat, pada suatu malam aku dinasehati oleh sahabatku untuk tidak menyerah secepat ini kami sempat bertengkar karena hal ini. Aku sampai menangis namun akhirnya aku kembali semangat untuk mendaftar kuliah. Kali ini aku mencoba mendaftar UM-PTKIN, aku sudah buat satu prinsip jika aku gagal untuk yang keempatkalinya maka aku akan mencari pekerjaan dan tidak ingin kuliah lagi, karena terlalu sering ditolak akibatnya aku menjadi sedikit trauma, dan menjadi rendah diri, aku tidak pernah keluar rumah. Aku hanya berdiam diri dikamar karena aku merasa tidak berguna.
Hingga tiba hari pengumuman untuk UM-PTKIN ini aku bahkan sudah tidak ingin membuka portal kemudian kak fatmi pun segera mengecek portal ku. Kemudian menelfon ku dan berkata “bahwa selamat dek kamu lulus”. Namun aku masih tidak percaya karena hari ini seakan masih dalam keadaan bermimpi karena aku merasa ini tidak mungkin namun hal ini benar-benar terjadi bahkan kak fatmi sampai datang kerumah untuk memberitahuku tentang kelulusan ini, senang rasanya namun perasaan ini juga bingung apakah ini bukan mimpi. Awalnya setelah aku percaya akupun menyiapkan beberapa keperluan kampus, aku fikir dunia kampus sama dengan di film-film namun setelah kekampus mengikuti beberapa kegiatan akupun mulai berfikir bahwa kuliah tidak seperti perspektifku ketika SMA. Bahwa kekampus hanya sebentar kemudian main sama teman-teman setelah itu belajar sama-sama namun pada kenyataannya, semua yang kufikirkan bertolak belakang dengan realita yang terjadi.
Setelah melalui proses pendaftaran dikampus, kegiatan awal yang saya ikuti adalah PBAK(Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan) kegiatan ini dilakukan pada mulanya dilaksanakan pada hari senin 3 september 2018, pada hari itu materi yang disajikan berupa “Visi atau cita-cita luhur”. Dan membahas tentang kepribadian adalah sikap seseorang secara spontan tanpa adanya unsur yang dibuat-buat. Adapun poin kedua tentang Allah Menciptakan 3 alam bagi manusia yaitu alam Rahim, dunia dan alam barzah. Adapun poin ketiga yaitu Allah memberi tiga istrumen untuk membagun kepribadian termasuk didalamnya, telinga untuk mendengar, penglihatan untuk melihat dan hati untuk memahami dan mempertimbangkan sesuatu. Dimana hati adalah cerminan yang akan timbul dalam bentuk kepribadian seseorang.
Kemudian materi berikutnya adalah Modernisasi Agama dan inktusiv dimana materi ini sangat menekankan bahwa Islam itu cinta, selain itu poin-poinnya jangan engkau mengklaim dirimu sebagai mukmin apabila kau tidak memiliki sepercik cinta terhadap saudaramu seperti cintamu kepada dirimu sendiri.
Islam itu cinta yang sesungguhnya apabila kita mencintai yang tiga ini dengan sungguh-sungguh yaitu Tuhan,Nabi dan ibu. Apabila kita tidak mencintai mereka itu artinya cinta anda sedang sakit materi ini benar-benar sangat berkesan seolah-olah sampai sekarang masih tergiang ditelingaku, karena ketika pak Dr.Muhammad Sabri Ar.Mag membawakan materi ini aku sampai merinding karena ia seakan menyampaikan seakan ia sendiri yang sedang merasakannya. Aku terkagum-kagum melihat materi ini. Hingga pada saat hari tekahir yaitu rabu, 05 september 2018 aku dan teman-teman dari jurusan fisika diberikan yel-yel yang berjudul “Tebuk anak sholeh” hari itu sangat menyenangkan, setelah yel-yel dilanjutkan materi terakhir oleh Prof.Dr.H.Hendry Subiakto yang mana materinya berjudul “Indonesia dan energi anak muda di era digital “. Pada materi ini membahas seputar budaya net generation yang mana karna adanya budaya net generation ini membuat kita semua lebih banyak berintraksi dengan dunia maya, dimana dunia maya atau digital ini sendiri adalah dunia transparan.
Sebelum adanya dunia digital ada revolusi industry yang dimulai dari mesin tua,listrik dan internet. Kemudian perubahan sosial revolusioner, bisnis online, gojek , shopee, dan sebagainya, sehingga membuat kaula muda yang mampu menggunakannya dengan baik dan berdampak positif dan meningkatkan nasionalisme kaula muda namun yang menyalah gunakan dunia digital ini tentu akan menjadi boomerang bagi kaula muda yang akan kehilangan jati dirinya. Mengapa demikian, ketika kaula muda rusak maka tentu Negara ini tentu akan rusak pula karena, mereka adalah penerus bangsa dimasa yang akan datang. Misalnya kecanduan game online, bersifat individual, orang lain disekitar tentu akan merasa diabaikan dan silahturahmi dengan tentangga tentu akan berkurang karena ia hidup seakan didunia maya.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai kita makan bersama dan menikmati momen yang sangat berkesan tentu saja aku dan teman-teman tidak lupa untuk mengabadikannya dengan berfoto. Kemudian ada juga pelajaran baris-berbaris pada saat itu pembagian kelompok untuk baris-berbaris ini bukan berdasarkan jurusan namun berdasarkan angka yang dibagikan guna angka-angka tersebut akan membentuk beberapa formasi seperti bendera merah putih, FTK dan lain-lain.
Pada saat itu juga sangat menyenangkan namun begitu melelahkan apalagi ketika ada yang tak sepaham tentu akan berantakan, karena pada tahap ini kita diajarkan untuk kompak kerja sama, dan yang paling utama kesabaran, giat serta kedisiplinan waktu, karna tanpa itu semua tentu hal ini tidak akan bisa tercapai karna setiap individu pasti ingin dibenarkan, namun karena tidak menuruti ego kami bisa kelompok yang masuk kategori kompak dengan jumlah luar biasa.
Setelah PBAK berlalu hari pertama masuk kampus rasanya masih juga merasa asing, selang beberapa jam ada kegiatan jurusan yaitu penyambutan maba (mahasiswa baru) waktu itu aku selalu duduk paling depan, kemudian para kakak panitia memperkenalkan namanya satu persatu setelah kami para maba diperkenankan untuk memperkenalkan diri masing-masing setelah memperkenalkan diri dilanjutkan masuk laboratorium pendidikan fisika untuk pertama kalinya. Kesan pertama yang kudapatkan adalah ruagan penuh dengan kelap-kelip dan hiasan rangkaian-rangkaian listrik dan laporan yang ditata sedemikian rupa. Kukira ruangan itu akan tetap menjadi ruangan yang berwarna-warni aduhh. Setelah itu kak niha pun menjadi mc dalam proses penyambutan ini.
Sebagai MC kak nilla dan kak ismi sangat kocak , lab kala itu hanya dipenuhi canda tawa dan tanpa kesedihan kegiatan ini juga dihadiri oleh para dosen dan staf jurusan pendidikan fisika dan satu lagi kala itu juga paling heboh pak def atau pak Qadafi , beliau adalah kajur terbaik, beliau ini seakan menjadi sosok ayah yang sangat peduli kepada kami semua setelah mengetahui dosen-dosen dari jurusan pendidikan fisika kemudian kakak-kakak dari HMJ diperkenalkan oleh MC dengan menyebut nama-nama dan julukan-julukan lucu yang diberikan sebelumnya.
Sungguh hari itu sangat menyenangkan kemudian masing-masing dari kami dan kalangan maba diperkenalkan untuk mengikuti game. Game kali ini adalah kami disuruh untuk mengambil origami yang berbentuk kupu-kupu dan angka setiap orang mengambil masing-masing satu origami angsa dan satu origami kupu-kupu yang mana bagi yang beruntung akan mendapatkan huruf-huruf yang akan dirangkai menjadi nama angkatan yaitu des18el karna kami angkatan 2018 jadi huruf I diganti jadi 1 dan huruf b diganti dengan angka 8.
Makna dari dis18el ini sendiri adalah taraf intensitas bunyi, dimana angkatan ini diharapkan agar suaranya bisa lebih besar dalam hal positif dan tidak hanya diam saja. Angkatan kami biasa disingkat desi-desi pada saat teman-teman yang mendapatkan kertas ini disuruh untuk naik untuk merangkai huruf-huruf ini menjadi kata Des1bel lampu pada ruangan ini serentak dipadamkan kami semua bingung kami fikir kegiatan ini akan berantakan ternyata pemadaman listrik ini merupakan bagian dari acara.
Setelah teman-teman berhasil menyusun huruf-huruf itu menjadi satu kata yaitu des18el, lampunya kembali dinyalakan suasananyapun semakin seru dan meriah, seketika itu aku merasakan ada sesuatu yang baru dan akupun bahagia dengan suasana itu. Kemudia diberikan arahan oleh Pak Kajur yang akrab disapa pak def mengenai jurusan pendidikan fisika yang berkaitan dengan dunia laporan.
Setelah Pak Def selesai memberi arahan kami diberi tontonan berupa video dari senior angkatan 2015 yang saat itu menjabat sebagai HMJ beserta jajarannya yang sedang melakukan ppl di luar daerah, ketika kami menonton video ini kamipun merasa terhibur karna selain ucapan selamat datang terselip juga video aktivitas-aktivitas senior yang konyol sehingga kamipun terbawa tawa dalam menonton.
Jam menunjukkan pukul 12:30 Wita kamipun bergegas keluar dari ruangan tersebut dan diarahkan oleh kakak-kakak panitia untuk pergi kemasjid untuk melaksanakan sholat duhur, sesampainya dimasjid kami kemudian mengantri untuk mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat. Singkat cerita setelah selesai sholat kami kemudian diarahkan untuk pergi makan bersama teman-teman, oleh panitia, kemudian menuju keauditorium untuk mengikuti kegiatan penutupan PBAK setelah penutupan kamipun bergegas pulang namun sebelum pulang kamipun tak lupa bersalaman dan saling sapa-menyapa dan melakukan sesi foto bersama sebagai bentuk kenangan perjumpaan awal kami saat mengikuti proses PBAK selain itu akupun sempat meminta nomor WA teman-temanku untuk lebih mempererat pertemanan kami dengan membuat grub WA.
Hari pertama aku memasuki dunia kampus. Pada awalnya aku merasa senang karna aku kembali bertemu dengan teman-teman baruku,tapi setelah sampai dikelas aku merakasan hal yang berbeda, suasana yang menegangkan dan juga sedikit lucu menurutku. Aku dan temanku saling bertatap-tatapan namun enggan untuk saling menyapa karna masih terbesit rasa malu antar satu sama lain akupun memberanikan diri untuk menyapa temanku yang berawal dari chat singkat yang sok akrab, kemudian kamipun semakin akrab hingga dudukpun saling berdampingan didalam kelas.
Pada minggu pertama dihari senin sampai hari kamis kami belum aktif dalam proses belajar-mengajar, kami masih tahap proses perkenalan dengan dosen,tetapi pada minggu pertama adapun dosen yang tidak masuk sehingga pada minggu kedua kami masih melakukan proses perkenalan setelah proses perkenalan kamipun aktif dalam proses belajar-mengajar seperti mahasiswa pada umunya.
Pada saat perkuliahan ada satu metakuliah yang menurutku menarik karna pertemuan pertama dosen yang mengajarkan tidak pernah masuk tetapi, dosen tersebut berpesan kepada ketua tingkat bahwa pertemuan pertama matakuliah eksperimen fisika dasar 1 dilaksanakan dilaboratorium guna melaksanakan asistensi umum eksperimen fisika dasar 1 . ketika melaksanakan asistensi dosen memperkenalkan masing-masing asisten berdasarkan judul pratikum yang dilakukan kemudian langsung dibagi kelompok setiap golongan.
Seminggu setelah itu merupakan hari pertama aku dan teman-teman melaksanakan pratikum dengan judul “Dasar-dasar pengukuran” pengalaman pertamaku terbesit rasa senang sekaligus bangga karena bisa menggunakan baju lab dan rasanya ada kebahagiaan tersendiri dan perasaan terhadap apa yang akan dilakukan didalam laboratorium. Aku dengan wajah berseri-seri mendengar nama kelompokku dipanggil untuk bertanda tangan sebagai syarat masuk laboratorium. Kemudian akupun untuk pertama kalinya menginjakkan kembali kakiku kedalam laboratorium fisika. Didalam akupun mendapatkan bimbingan sekaligus arahan tentang prosedur kerja masing-masing alat-alat yang ada didalam laboratorium, suasana didalam laboratorium berjalan dengan cepat seakan waktu berjalan sangat cepat hingga akhirnya ketika keluar dari lap aku baru mengetahui ternyata dunia laboratorium tak seperti apa yang ada didalam fikiranku karena begitu menyesakkan kalau dirangkaikan dengan kata-kata. Namun, tak terasa rutunitas itu berjalan hingga semester 2-3 lama kelamaan proses belajar seperti ini sudah mejadi menyenangkan. Nah disemester inilah aku sudah mulai mengikuti Kembali aktif di organisasi ORGANDA, LDF, LDK. Selain sibuk dengan laporan aku juga mengikuti organisasi agar dapat menambah pengalaman dan wawasan ilmu agama. Nah pengalaman yang bisa ku dapatkan di ORGANDA yaitu bagaimana cara meningkatkan rasa solidaritas dan kekeluargaan. Organisasi ini juga mewadahi minat dan bakat kami yang belum mengetahui bagaimana kehidupan dunia kampus. LDF (lembaga Dakwa Fakultas) dan LDK (lembaga Dakwa Kampus) kedua organisasi ini memberikan aku dan teman teman pemahaman tentang ilmu agama dan selalu memberikan semangat untuk beribadah dan meningkatkankan kecintaan kami terhadap majelis ilmu.
DAFTAR PUSTAKA
Amal Hidayah. 2012. Prosedur pengembangan kurikulum PAI. http://ammun-gun.blogspot.com/2012/05/posedur-pengembangan-kurikulumpai.html?m=1. Diakses pada tanggal 11 april 2020.
Barabai. A. Makalah Kurikulum. 2013. https://www.academia.edu/12956677/makalah_kurikulum_2013. Diakses pada tanggal 1 Juli 2020
Humalik Oemar. 1981. Pembina Dan Pengemvangan Kurikulum. Bandung; Pustaka Martina.
Indonesia gerakan menulis buku. 2018. Perkembangan Kurikulum di Indonesia hingga Kurikulum 2013 (K13). https://gmb-indonesia.com/2018/05/20/perkembangan-kurikulum-di-indonesia-hingga-kurikulum-2013-k13/. Diakses pada tanggal 2020.
karima Nabila Fajria. 2019. Proses Pengembangan Kurikulum. Jurnal Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Lampiran Permendikbud No. 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi
Nasution S. 1989. Kurikulum dan pengajaran, Bandung,Bina aksara.
Octadianti laili. 2014. Makalah Kurikulum 2013. https://www.academia.edu/28608587/Makalah_Kurikulum_2013_kelompok_8_.docx. Diakses pada tanggal 1 Juli 2020.
Peraturan pemerintah nomor 19 thn 2005 tentang standar Pendidikan.
Peraturan pendidikan Nasional no 23 tahun 2006 tentang stnadar Isi dan peraturan mentri pendidikan Nasional no 24 tahun 2006 tetang kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah.
Sabandijah. 1996. Pengembangan Kurikulum dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sanjaya Wina. 2010. Kurikulum dan Pembeljaran . Jakarta: kencana.
Sanjaya,Wina. 2007. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana pranada Madia Group.
Situsartikel. 2018. Prosedur Pengembangan Kurikulum. https://www.situsartikel92.com/2018/12/prosedur-pengembangan-kurikulum.html?m=1. Diakses pada tanggal 28 Juni 2020.
Surapranata dan Muhammad Hatta. Implementasi kirikulum dan penialaian. Bandung.
Syaifuddin. 2011. Pengembangn Kurikulum. Yogyakarta: Aswaja pressindo.
Tim Kurikuum Dan pembelajaran. 2014. Buku Kurikulum Pendidikan Tinggi. Jakarta: Direktor Jenderal Pendidikan Tinggi.
Uandang – undang no. 20 tahun 2003 tentan sistem pendidikan Nasional
Unknown. 2016. Prosedur Pengembangan Kurikulum. https://contoh-makalah2.blogspot.com/2016/05/contoh-prosedur-pengembangan-kurikulum.html?m=1 Unknown. Diakses pada tanggal 11 april 2020.
Catatan:
Komentar
Posting Komentar